HOME  ⁄  Lifestyle

Sulur Yoga Padukan Gerakan Yoga dan Filosofi Jawa, Buka Peluang Baru Wellness Tourism di Indonesia

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Sulur Yoga Padukan Gerakan Yoga dan Filosofi Jawa, Buka Peluang Baru Wellness Tourism di Indonesia
Foto: (Sumber : Sejumlah peserta sedang mengikuti gerakan Sulur Yoga dengan bimbingan seorang praktisi (kanan)

PANTAU - Sulur Yoga, jenis yoga yang dikembangkan di Indonesia dengan memadukan gerakan yoga dan filosofi Jawa, mendapat perhatian sebagai metode olah tubuh yang mengedepankan kesadaran napas, hubungan dengan alam, serta kearifan budaya lokal sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis wellness.

Sulur Yoga Dikembangkan dari Kearifan Lokal dan Filosofi Jawa

Praktik Sulur Yoga dipimpin oleh Agustin Sulistyawati, praktisi yoga bersertifikat E-RYT 200 dan YACEP yang juga mengantongi sertifikasi 200 jam Hatha Yoga dan 300 jam Yin Yoga.

Agustin menjelaskan, “Sulur Yoga dapat dipahami sebagai gerakan yang membuat tubuh bergerak seperti sulur tanaman, lentur, mengalir, namun tetap kuat dan terhubung dengan napas serta lingkungan sekitar serta sarat filosofi Jawa.”

Gerakannya bersifat lembut, organik, dan tidak terlalu kaku mengikuti pose yoga klasik, dengan penekanan pada kesadaran napas, sensasi tubuh, serta hubungan dengan alam.

Metode ini juga menggabungkan unsur somatic movement, meditasi, relaksasi, dan pada beberapa sesi dipadukan dengan tari maupun sound healing.

Menurut Agustin, Sulur Yoga cocok untuk peregangan otot, pelepasan ketegangan tubuh, dan relaksasi mental.

Ia mengatakan, “Awalnya saya hanya membagikan kepada para klien pribadi dan para murid, ternyata mereka antusias karena mengaku merasakan manfaatnya secara langsung.”

Cikal bakal Sulur Yoga bermula pada 2018 ketika GKR Bendara dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menginginkan pengembangan olah tubuh berciri kearifan lokal dan meminta Agustin menciptakan konsep yoga dengan unsur budaya Nusantara.

Dalam prosesnya, Agustin mempelajari berbagai praktik tari dan budaya, mengikuti kelas daring bersama Maria Darmaningsih pada 2021, bereksplorasi dengan seniman tari Lengger Banyumas Rianto, hingga melakukan pendalaman di Kampung Osing Banyuwangi sebelum kembali mengacu pada pakem Yogyakarta.

Pada 2024, ia berkolaborasi dengan penari Kinanthi Sekar Rahina dan seniman Yessy Yoanne di Sleman hingga Sulur Yoga mencapai bentuk yang dianggap final setelah enam bulan pengembangan.

Sulur Yoga kemudian diperkenalkan kepada publik pada Jogja Culture Wellness Festival 2025 dan memperoleh sambutan positif dari masyarakat.

Agustin mengenang, “Bahkan orang-orang yang baru pertama kali melakukan yoga kala itu tak terbendung untuk menangis, ini menandakan bahwa ada sumbatan energi yang terbuka, baik dalam hal raga, mental dan spiritual. Sulur Yoga membantu membuka sumbatan tersebut.”

Peserta Rasakan Manfaat, Pakar Jelaskan Respons Secara Ilmiah

Menurut Agustin, manfaat yang dirasakan peserta membuat Sulur Yoga mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Ia mengatakan, “Jauh sebelum JCWF, sebenarnya saya sudah cukup banyak memperkenalkan Sulur Yoga kepada klien pribadi dan orang terdekat. Feedback-nya relatif sama, mereka merasakan ada perubahan dalam waktu relatif singkat.”

Program ini juga dapat diikuti secara daring dan telah diikuti peserta dari berbagai negara.

Peserta bernama Anditta yang tinggal di Australia mengungkapkan, “Berlatih Sulur Yoga, saya merasakan munculnya awareness terhadap tubuh sendiri saat bergerak sehari-hari untuk mencegah terjadinya cedera, mengingat saya punya kondisi khusus dan berpotensi lebih fatal dibanding orang normal.”

Ia menambahkan, “Lainnya adalah olah tubuh dan olah rasa karena orang sehat saja harus maintain kesehatan apalagi orang dengan kondisi seperti saya. Olah tubuh membantu mengelola rasa sakit seminimal mungkin dan tidak mengganggu fungsi diri sebagai manusia normal.”

Peserta asal China yang tinggal di Tokyo, Sophia Shao, juga menyampaikan, “Manfaat utama Sulur Yoga paling real adalah untuk develop energi, physical awareness, serta spiritual dan memahami apa yang dibutuhkan tubuh. Ini berbeda dan terasa lebih baik daripada yoga yang saya pelajari sewaktu di Amerika yang hanya fokus pada kebugaran generik.”

Pakar neurosains Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Satwika Rahapsari menjelaskan, “Transisi psikologis ini tidak selalu mulus, ini kemudian bisa mendatangkan gelombang emosi yang tiba-tiba, salah satu ekspresinya dengan menangis. Ini bisa dijelaskan secara ilmiah, bukan sesuatu yang mistis, bukan kelemahan, dan sebenarnya justru respons neurobiologis yang sehat.”

Menurut Satwika, kesadaran yang muncul selama latihan merupakan bentuk interoceptive awareness yang dapat dipulihkan melalui praktik yoga secara berkelanjutan.

Di sisi lain, Sulur Yoga juga dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata berbasis wellness dan budaya lokal.

Agustin mengatakan, “Review positif dari para tamu terhadap Sulur Yoga menjadi pemicu naiknya nilai jual program tersebut di resor atau hotel. Saat ini saja permintaan tinggi atas Sulur Yoga membuat setiap hari selalu ada kelas di berbagai lokasi dan saya nyaris tidak pernah libur hingga setahun belakangan.”

Perwakilan Wanasekar Resort Yogyakarta, Awang, menyampaikan, “Keselarasan gerak dengan jiwa akan menciptakan harmoni. Dampak positifnya, akan membuat tubuh lebih nyaman karena peregangan optimal dan sesi meditasi juga menenangkan. Sentuhan budayanya menjadikan kami lebih kagum terhadap warisan nenek moyang dan bangga karena turut melestarikannya agar tetap eksis di kehidupan ultramodern.”

Direktur Utama Jogja Tourism Training Center Hairullah Gazali menilai, “Wisatawan modern semakin mencari pengalaman autentik yang mencerminkan identitas budaya suatu daerah. Sulur Yoga dapat menjadi bagian upaya diversifikasi produk wisata Indonesia yang selama ini masih didominasi wisata alam dan budaya konvensional.”

Ia juga menekankan, “Untuk pengelola, secara umum perlu memperhatikan keseimbangan antara komersialisasi dan pelestarian budaya, standar pelayanan dan keamanan yang baik, penggunaan pemasaran digital yang efektif, perlindungan terhadap hak intelektual dan kepemilikan budaya komunitas lokal, pengembangan produk yang berbasis komunitas agar manfaat ekonomi tidak terpusat pada investor semata.”

Penulis :
Gerry Eka