
Pantau - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia, terutama yang telah berusia lebih dari 50 tahun, untuk membangun museum sebagai ruang edukasi, riset, dan pelestarian sejarah institusi.
Museum Dinilai Menjadi Ruang Edukasi dan Memori Kolektif
“Kita ingin menggerakkan setiap perguruan tinggi, terutama yang telah berusia lebih dari 50 tahun, memiliki museum,” kata Fadli Zon usai meresmikan Museum Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kampus ITB, Bandung, Jumat (3/7/2026).
Fadli Zon menyampaikan Indonesia saat ini memiliki sekitar 516 museum yang telah teregistrasi dan berharap jumlah tersebut terus bertambah dengan hadirnya museum-museum baru.
Menurutnya, museum harus menjadi ruang yang hidup, dikunjungi masyarakat, mampu menginspirasi generasi muda, sekaligus menjadi bagian penting dari ekonomi budaya Indonesia.
Ia mengapresiasi terwujudnya Museum ITB yang dibangun melalui proses selama delapan tahun.
“Museum merupakan etalase budaya dan etalase peradaban. Ini bukan tempat penyimpanan artefak, tetapi memori kolektif sebuah institusi. ITB adalah institusi penting yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa, sehingga keberadaan museum ini menjadi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan memori kolektif tersebut,” ujarnya.
Kementerian Kebudayaan berharap semakin banyak perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat berkolaborasi membangun museum sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan penguatan identitas bangsa.
Museum ITB Hadirkan Ruang Interaktif Berbasis Teknologi
Museum ITB dihadirkan sebagai ruang interaktif yang merawat perjalanan sejarah kampus sejak berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 1920.
Museum tersebut memiliki empat zona utama, yaitu Akar Sejarah Institut Teknologi Bandung, Jejak Pencerahan Riset dan Pendidikan, Kehidupan Kampus dari Masa ke Masa, dan Inspirasi Masa Depan yang dilengkapi dengan 360° Theater Dome sebagai ruang pengalaman imersif berbasis teknologi digital.
Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara mengatakan museum tersebut dibangun untuk merawat sejarah sekaligus menginspirasi masa depan.
“Museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Ini adalah ruang pengetahuan, ruang refleksi, ruang dialog, dan ruang inspirasi. Tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga sumber pembelajaran untuk masa depan,” ungkapnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan





