
Pantau - Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik menegaskan hubungan yang hangat dan penuh rasa aman antara anak dengan orang dewasa menjadi faktor penting agar anak berani mengungkapkan pengalaman kekerasan dan mencari pertolongan.
Hubungan Aman Dorong Anak Berani Bercerita
Ocha Ananda Suherik mengatakan konsep secure attachment dalam psikologi perkembangan menggambarkan hubungan yang hangat, responsif, dan penuh rasa aman antara anak dengan pengasuh atau orang dewasa di sekitarnya.
“Anak yang merasa didengar, dipercaya, dan tidak dihakimi akan lebih berani mengungkapkan pengalaman yang dialaminya serta mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang membahayakan,” ungkap Ocha Ananda Suherik.
Ia menjelaskan anak yang mengalami kekerasan atau perundungan sebaiknya segera mencari orang dewasa yang dipercaya, seperti orang tua, guru, anggota keluarga, psikolog, atau pihak lain yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.
Ocha mengatakan setelah memperoleh perlindungan dan dukungan, kasus dapat diteruskan kepada pihak berwenang seperti UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, kepolisian, Lembaga Bantuan Hukum, atau layanan perlindungan anak lainnya sesuai kebutuhan.
Faktor Psikologis Membuat Anak Sulit Melapor
Ocha menjelaskan banyak anak tidak langsung menceritakan pengalaman kekerasan karena kemampuan memahami, mengolah, dan menyampaikan pengalaman traumatis masih dalam tahap perkembangan.
“Banyak orang mengira anak yang tidak segera bercerita berarti menutupi kejadian atau tidak ingin ditolong. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks,” ujarnya.
Ia menambahkan anak yang mengalami trauma sering kali hanya menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau menghindari orang tertentu tanpa mampu menjelaskan penyebabnya.
Menurut Ocha, anak juga cenderung memilih diam apabila merasa takut terhadap ancaman pelaku, khawatir tidak dipercaya, merasa akan disalahkan, atau pernah diabaikan ketika mencoba bercerita.
“Kondisi ini semakin sulit apabila pelaku adalah orang yang dekat dengan anak, seperti anggota keluarga, guru, atau orang yang selama ini dipercaya, karena anak dapat mengalami konflik batin antara rasa takut dan keinginan untuk mempertahankan hubungan tersebut,” ungkapnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), sepanjang 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan, dengan 23.043 kasus atau 65,59 persen di antaranya dialami oleh anak, sementara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengusung tema Hari Anak Nasional 2026 “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” untuk meningkatkan kesadaran perlindungan terhadap anak.
- Penulis :
- Aditya Yohan





