HOME  ⁄  Lifestyle

Psikolog Mengingatkan Media Sosial Bukan Tempat Tepat untuk Melampiaskan Amarah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Psikolog Mengingatkan Media Sosial Bukan Tempat Tepat untuk Melampiaskan Amarah
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Media sosial. (ANTARA/PIXABAY/Geralt).)

Pantau - Psikolog klinis sekaligus Direktur Personal Growth Ratih Ibrahim mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan amarah karena tindakan tersebut justru dapat memperkuat emosi negatif dan memicu persoalan baru.

Pernyataan Ratih disampaikan menyusul viralnya unggahan Yurizal Tri Chaerawan yang memperlihatkan tenaga kesehatan diduga merundung dirinya di media sosial.

Yurizal sebelumnya mengungkapkan keluhan terkait lamanya waktu menunggu ketersediaan kamar rawat inap dan kemudian meninggal dunia pada 31 Juli 2026.

"Melampiaskan kemarahan secara impulsif tidak selalu membuat permasalahannya selesai dan kondisi emosi jadi membaik. Justru, sangat mungkin hal tersebut malah memperkuat kemarahan karena seseorang terus mengulang dan menghidupkan kembali emosi negatifnya," kata Ratih saat dihubungi pada Sabtu (8/8/2026).

Unggahan Emosional Berpotensi Memicu Masalah Baru

Ratih mengatakan mengeluarkan unek-unek atau melakukan katarsis memang dapat memberikan rasa lega, tetapi dampaknya bisa bersifat sementara.

Menurut dia, unggahan yang dibuat ketika emosi sedang memuncak berpotensi menimbulkan konflik, penyesalan, hingga kerusakan reputasi profesional.

"Apalagi jika yang menjadi sasaran adalah individu yang memiliki relasi kuasa yang tidak seimbang, seperti pasien," ujarnya.

Ratih menjelaskan karakteristik media sosial dapat membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara bebas dan emosional dibandingkan ketika berinteraksi secara langsung.

Dalam psikologi, kecenderungan seseorang menjadi lebih berani, impulsif, atau kurang mampu menahan diri ketika berada di ruang digital dikenal sebagai online disinhibition effect.

Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh adanya jarak, anonimitas, serta minimnya konsekuensi yang langsung terlihat saat seseorang berinteraksi di ruang digital.

Psikolog Sarankan Emosi Diproses Secara Konstruktif

Ratih menyarankan masyarakat memproses emosi melalui cara yang lebih konstruktif, antara lain dengan berbicara kepada orang yang dipercaya atau melakukan refleksi.

"Jika tekanan berlangsung berkepanjangan, carilah bantuan profesional," katanya.

Kemampuan mengelola emosi dinilai penting agar seseorang tidak melampiaskan kemarahan melalui media sosial hingga menimbulkan dampak terhadap pihak lain.

Unggahan di media sosial juga dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus serta berpotensi memberikan dampak luas bagi pihak yang menjadi sasaran maupun orang yang mengunggahnya.

Penulis :
Aditya Yohan