HOME  ⁄  Lifestyle

Studi Mengungkap Pramugari dan Pilot Berisiko Lebih Tinggi Meninggal akibat Kanker Terkait Radiasi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Studi Mengungkap Pramugari dan Pilot Berisiko Lebih Tinggi Meninggal akibat Kanker Terkait Radiasi
Foto: (Sumber :Ilustrasi sakit. (ANTARA/Shutterstock/am).)

Pantau - Studi terbaru yang dipublikasikan di JAMA Internal Medicine mengungkap pramugari dan pilot sebagai dua profesi dengan persentase kematian akibat kanker terkait paparan radiasi tertinggi berdasarkan analisis data nasional di Amerika Serikat.

Penelitian tersebut menggunakan lebih dari 12 juta sertifikat kematian yang memuat informasi mengenai pekerjaan dan menganalisis lebih dari 500 jenis profesi.

Para peneliti mengkaji kematian akibat sejumlah kanker yang berkaitan dengan paparan radiasi, termasuk leukemia, limfoma, multiple myeloma, kanker kulit, payudara, tiroid, prostat, dan sistem saraf pusat.

Pramugari Catat Risiko Lebih Tinggi

Hasil penelitian menunjukkan pramugari memiliki kemungkinan sekitar 50 persen lebih tinggi meninggal akibat kanker terkait radiasi dibandingkan populasi pekerja secara umum.

Pilot menempati posisi kedua dengan kemungkinan meninggal akibat kanker terkait radiasi sekitar 36 persen lebih tinggi dibandingkan populasi pekerja secara umum.

Penulis utama studi dari Harvard Medical School, Dr. Vishal Patel, menyebut sekitar 6,9 persen kematian pramugari disebabkan kanker-kanker tersebut atau sekitar satu dari 14 kematian.

Pada pilot, persentasenya mencapai 6,7 persen, sedangkan pada populasi pekerja secara umum sekitar 5 persen.

Penulis tinjauan studi Catherine Olsen dan Ken Karipidis menyatakan temuan tersebut mendukung hipotesis bahwa "paparan radiasi akibat pekerjaan, bukan gaya hidup atau faktor sosial ekonomi, menjadi penyebab meningkatnya risiko tersebut".

Radiasi kosmik yang berasal dari luar angkasa menjadi salah satu perhatian karena paparannya lebih besar terhadap orang yang terbang di ketinggian dibandingkan mereka yang berada di permukaan Bumi.

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) juga telah mengakui bahwa awak pesawat terpapar radiasi pengion.

Namun, pemerintah Amerika Serikat belum menetapkan batas dosis radiasi secara federal maupun mewajibkan pemantauan paparan tersebut, menurut para penulis penelitian.

"Kita tidak dapat mengelola paparan yang kita pilih untuk tidak diukur," kata Patel melalui surat elektronik.

Peneliti Ungkap Keterbatasan Studi

Para peneliti mengakui studi tersebut memiliki sejumlah keterbatasan karena tidak mengetahui besarnya paparan radiasi yang diterima masing-masing pramugari dan pilot selama bekerja di udara maupun dari sumber lainnya.

Penelitian juga tidak memperhitungkan seluruh faktor kesehatan lain yang berkaitan dengan profesi penerbangan, termasuk gangguan jam biologis akibat jet lag dan jadwal kerja tidak menentu.

Selain itu, peneliti mencatat adanya kemungkinan kesalahan pencantuman pekerjaan dalam sejumlah sertifikat kematian yang dianalisis.

Ketua serikat pekerja Association of Flight Attendants-CWA, Sara Nelson, menilai hasil penelitian tersebut memperkuat perlunya perhatian terhadap paparan radiasi bagi awak pesawat.

"Risikonya sudah diketahui, tetapi awak pesawat tidak mendapatkan edukasi atau informasi yang memadai. Dan tidak ada yang bertanggung jawab," ujar Nelson.

Olsen dan Karipidis menyebut pemeriksaan kulit tahunan dapat dipertimbangkan bagi orang yang bekerja dalam penerbangan di ketinggian, sementara perempuan dalam profesi tersebut dapat mempertimbangkan pemeriksaan mamografi lebih awal atau lebih sering.

Penulis :
Aditya Yohan