HOME  ⁄  Lifestyle

Dokter Anak Tegaskan Protein Ganda Tak Otomatis Membuat Anak Lebih Tinggi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Dokter Anak Tegaskan Protein Ganda Tak Otomatis Membuat Anak Lebih Tinggi
Foto: Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi lulusan Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI usai menghadiri sebuah konferensi pers di Jakarta, Selasa 22/92/2026 (sumber: ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Pantau - Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI menepis anggapan bahwa pemberian protein ganda atau double protein dapat membuat tubuh anak menjadi lebih tinggi.

Menurut Prof. Aman, anak membutuhkan protein dalam jumlah cukup sesuai kebutuhan tubuh, bukan protein secara berlebihan.

"Saya tidak tahu dari mana ilmu yang menyebut kalau memberi banyak protein itu buat anak jadi tinggi. Yang benar adalah memberikan anak protein yang cukup, itu yang betul," ungkap Prof. Aman.

Prof. Aman yang merupakan lulusan Universitas Indonesia menjelaskan bahwa secara genetik tubuh manusia tidak terbiasa bekerja keras untuk menyaring lebih banyak sisa makanan yang mengandung protein, seperti protein dari daging.

Berdasarkan salah satu kasus yang pernah ditanganinya, konsumsi protein dengan kapasitas mencapai 400 sampai 500 gram dalam sehari justru dapat merusak kinerja ginjal.

Anak Membutuhkan Gizi Seimbang, Bukan Protein Berlebihan

Prof. Aman menjelaskan bahwa selain protein, tubuh membutuhkan berbagai nutrisi lain untuk menunjang kesehatan dan pertumbuhan, seperti karbohidrat, vitamin, mineral, dan lemak.

Kekurangan protein pada anak memang dapat mengarah pada kondisi malnutrisi, tetapi kondisi tersebut tidak berarti pemberian protein berlebihan akan membuat tubuh anak lebih tinggi.

"Memang kalau anak kita kekurangan protein, ada yang mengarah pada malnutrisi namanya. Tapi bukan berarti, kalau kita kasih protein berlebihan, anak akan lebih tinggi. Tidak begitu," kata Prof. Aman.

Prof. Aman yang juga menjabat Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global menyarankan orang tua lebih berfokus memenuhi kebutuhan gizi anak secara seimbang.

Keseimbangan gizi dapat dilakukan dengan menyediakan berbagai variasi makanan dalam satu piring untuk dikonsumsi anak.

Makanan untuk anak juga tidak harus selalu berasal dari bahan pangan mahal seperti daging sapi atau salmon.

Indonesia sebagai negara bahari memiliki beragam sumber makanan bergizi, termasuk ikan kembung yang dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan untuk anak.

Sumber protein lain yang dapat diberikan kepada anak antara lain ayam dan telur, sedangkan tempe serta tahu dapat menjadi pilihan sumber protein nabati.

Susu hingga Vitamin D Tak Bisa Diberikan Berlebihan

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Aman juga tidak sependapat dengan anggapan bahwa konsumsi susu dan minyak ikan yang banyak dijual di apotek setiap hari dapat secara otomatis membantu anak tumbuh lebih tinggi.

Menurut Prof. Aman, susu tetap baik bagi tubuh, terutama susu segar atau fresh milk, karena mengandung kalsium, tetapi tidak menjadi masalah apabila susu tidak dapat diberikan kepada anak setiap hari.

Ia menganjurkan konsumsi susu sekitar satu sampai dua gelas per hari.

"Yang jelas 2 tahun pertama itu harus ASI. Kalau anak mau tambahan susu di atas usia 1 tahun boleh, misalnya fresh milk, bukan susu formula. Kenapa tidak apa-apa kalau tidak ada? karena usia 1 tahun anak sudah ikut makanan rumah tangga," ujar Prof. Aman.

Prof. Aman juga menjelaskan bahwa vitamin D dan kalsium merupakan nutrisi yang baik bagi tubuh dan kekurangannya dapat berhubungan dengan kondisi anak yang pendek.

Namun, apabila kadar vitamin D dan kalsium anak sudah normal, pemberian dalam jumlah berlebihan tidak akan membuat anak secara tiba-tiba menjadi lebih tinggi.

"Memang vitamin D bagus, kalsium bagus dan kalau kekurangan anak akan pendek. Tetapi kalau normal, dikasih kalsium atau vitamin D berlebihan, itu tidak akan membuat tiba-tiba tinggi. Apa yang membuatnya tinggi? Hidup sesehat dan seideal mungkin, tidur cukup, olahraga cukup, makan cukup dan bahagia," ungkap Prof. Aman.

Orang Tua Disarankan Periksa Tumbuh Kembang Anak

Prof. Aman menekankan pentingnya pola hidup sehat dan ideal untuk mendukung pertumbuhan anak, mulai dari tidur dan olahraga yang cukup hingga mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta menjaga anak tetap bahagia.

Orang tua yang memiliki kekhawatiran mengenai tumbuh kembang anak disarankan berkonsultasi dengan dokter anak agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi maupun keluhan yang terlihat.

Dokter kemudian dapat menentukan obat atau vitamin yang sesuai berdasarkan kondisi masing-masing anak serta mendeteksi kemungkinan adanya kelainan pada tulang.

Prof. Aman menekankan pemeriksaan kondisi anak harus dilakukan secara detail agar pemberian vitamin maupun penanganan lainnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Sebagai contoh, anak yang mengalami kekurangan kalsium tidak dapat ditangani dengan memberikan seluruh jenis vitamin tanpa mengetahui kondisi anak secara spesifik.

Kondisi tulang seperti tulang keropos atau mudah patah juga membutuhkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

"Jadi pemeriksaan harus detail, misalnya anak kekurangan kalsium, kita kasih seluruh vitamin itu kan tidak bisa, harus kita kasih vitamin D, apalagi tulang juga bisa keropos, patah-patah misalnya, tidak bisa dikasih hal-hal lain," kata Prof. Aman.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026