
Pantau - Mengurangi atau menghentikan konsumsi minuman beralkohol dapat membantu meningkatkan kesehatan otak, memperbaiki daya ingat, dan menjaga kualitas tidur sekaligus berpotensi menurunkan risiko gangguan kognitif dalam jangka panjang.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi alkohol secara rutin dapat memengaruhi fungsi otak, termasuk kemampuan mengingat, mengambil keputusan, dan mengatur emosi.
Dilansir dari EatingWell, Senin (19/10/2026), ahli gizi Ana Reisdorf, M.S., RD, menjelaskan bahwa alkohol dapat mengganggu komunikasi antarsel otak sehingga memengaruhi kemampuan berpikir dan pembentukan ingatan.
Dampak tersebut tidak hanya terjadi ketika seseorang sedang mabuk, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan mengingat pada individu yang terbiasa mengonsumsi alkohol secara rutin.
Berhenti Konsumsi Alkohol Dapat Membantu Memulihkan Daya Ingat
Penelitian menunjukkan bahwa fungsi kognitif seseorang dapat mengalami perbaikan secara bertahap setelah menghentikan konsumsi alkohol.
Sebuah tinjauan terhadap 16 penelitian menemukan bahwa orang dewasa dengan gangguan penggunaan alkohol mengalami peningkatan kemampuan daya ingat, perhatian, fungsi eksekutif, dan persepsi setelah berhenti mengonsumsi alkohol selama enam hingga 12 bulan.
Fungsi eksekutif merupakan kemampuan otak yang berperan dalam merencanakan kegiatan, mengendalikan perilaku, mengambil keputusan, serta menyelesaikan masalah.
Temuan tersebut menunjukkan adanya potensi pemulihan fungsi otak setelah seseorang menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Ahli gizi Erin Person, M.S., RD, menjelaskan bahwa penghentian konsumsi alkohol dapat membantu proses pemulihan otak melalui pengurangan peradangan yang berkaitan dengan kerusakan sel saraf.
Meski demikian, proses pemulihan dapat berlangsung secara bertahap dan hasilnya berbeda pada setiap individu, bergantung pada kondisi kesehatan serta riwayat konsumsi alkohol.
Alkohol Bisa Mengganggu Kualitas Tidur dan Fase REM
Selain berdampak terhadap daya ingat, konsumsi alkohol juga dapat mengganggu pola tidur seseorang.
Minuman beralkohol memang dapat membuat seseorang merasa mengantuk dan lebih cepat tertidur karena pengaruhnya terhadap sistem saraf pusat.
Namun, efek tersebut tidak selalu menghasilkan tidur yang berkualitas karena alkohol dapat menyebabkan seseorang lebih sering terbangun pada malam hari.
Akibatnya, tidur menjadi terputus-putus dan tubuh berpotensi tidak mendapatkan waktu istirahat yang optimal.
Alkohol juga diketahui dapat mengganggu fase tidur rapid eye movement (REM), yaitu salah satu tahapan tidur yang memiliki peran penting dalam pembentukan ingatan, fungsi kognitif, dan pengaturan emosi.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi dua takaran standar minuman beralkohol saja sudah dapat mengganggu fase tidur REM.
Gangguan pada fase tersebut dapat memengaruhi proses pengolahan informasi dan konsolidasi ingatan yang berlangsung selama seseorang tidur.
Dengan mengurangi atau menghentikan konsumsi alkohol, pola tidur berpotensi menjadi lebih stabil sehingga kualitas istirahat dapat meningkat.
Penelitian Soroti Hubungan Konsumsi Alkohol dengan Risiko Demensia
Sejumlah penelitian terbaru juga menyoroti hubungan antara konsumsi alkohol dan peningkatan risiko demensia.
Temuan tersebut menantang anggapan bahwa mengonsumsi alkohol dalam jumlah kecil dapat memberikan perlindungan terhadap kesehatan otak.
Sebuah analisis terhadap data genetik dari sekitar 2,4 juta orang menemukan bahwa risiko demensia cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah alkohol yang dikonsumsi.
Penelitian tersebut juga tidak menemukan tingkat konsumsi alkohol yang menunjukkan efek perlindungan terhadap risiko demensia.
Meski demikian, hasil penelitian mengenai dampak konsumsi alkohol dalam jumlah rendah terhadap kesehatan otak masih menunjukkan temuan yang beragam.
Hubungan antara konsumsi alkohol dan gangguan kognitif yang ditemukan dalam penelitian observasional juga tidak selalu membuktikan adanya hubungan sebab-akibat secara langsung.
Karena itu, para peneliti masih perlu mempertimbangkan berbagai faktor kesehatan dan gaya hidup dalam menilai pengaruh alkohol terhadap risiko demensia.
Berhenti Minum Alkohol Perlu Dilakukan dengan Aman
Mengurangi konsumsi alkohol dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu menjaga kesehatan otak dan meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Manfaat yang berpotensi diperoleh mencakup perbaikan daya ingat, peningkatan kemampuan berkonsentrasi, serta kualitas tidur yang lebih baik.
Namun, penghentian konsumsi alkohol secara mendadak tidak selalu aman, terutama bagi individu yang memiliki ketergantungan atau terbiasa mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut dapat memicu gejala putus alkohol yang berbahaya, termasuk tremor, kejang, dan gangguan kesadaran pada kasus berat.
Oleh karena itu, individu dengan riwayat konsumsi alkohol berat disarankan berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum menghentikan kebiasaan tersebut.
Pendampingan medis diperlukan untuk memastikan proses penghentian konsumsi alkohol berlangsung secara aman sekaligus membantu pemulihan kesehatan tubuh dan fungsi otak.
- Penulis :
- Aditya Yohan




