HOME  ⁄  Lifestyle

Dokter Ungkap Penyebab Alergi Baru Muncul saat Dewasa dan Faktor Pemicunya

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Dokter Ungkap Penyebab Alergi Baru Muncul saat Dewasa dan Faktor Pemicunya
Foto: Ilustrasi pilek.

Pantau - Alergi yang sebelumnya tidak pernah dialami seseorang ternyata dapat muncul ketika memasuki usia dewasa akibat perubahan sistem kekebalan tubuh, paparan alergen berulang, serta pengaruh lingkungan.

Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan gejala alergi terasa semakin berat, terutama ketika seseorang terpapar faktor pemicu seperti serbuk sari dan polusi udara.

Dilansir dari laman gaya hidup Real Simple, perubahan fungsi sistem kekebalan tubuh seiring bertambahnya usia dapat memengaruhi toleransi seseorang terhadap zat pemicu alergi.

Dokter spesialis alergi dan imunologi asal Amerika Serikat, Kara Wada, MD, menjelaskan bahwa paparan alergen secara berulang dapat menyebabkan tubuh menjadi semakin sensitif terhadap zat tertentu.

Perubahan Sistem Kekebalan Tubuh Bisa Memicu Alergi

Kara Wada mengatakan alergi yang baru muncul saat dewasa dapat berkaitan dengan perubahan respons sistem kekebalan tubuh terhadap paparan alergen.

Menurut dia, paparan serbuk sari secara berulang dalam jangka panjang berpotensi memicu sensitisasi atau peningkatan kepekaan tubuh terhadap zat pemicu alergi.

Risiko tersebut dapat dipengaruhi oleh sejumlah kondisi lain, seperti kehamilan, stres, penyakit, hingga perubahan metabolisme tubuh.

“Paparan serbuk sari yang berulang dari waktu ke waktu pada akhirnya dapat memicu sensitisasi, terutama ketika disertai faktor seperti kehamilan, stres, penyakit, perubahan kesehatan metabolisme, perubahan mikrobioma, atau perpindahan ke wilayah baru dengan paparan alergen yang berbeda,” kata Wada.

Perubahan mikrobioma atau komunitas mikroorganisme dalam tubuh juga disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi sensitivitas terhadap alergen.

Selain itu, perpindahan tempat tinggal ke wilayah dengan jenis alergen berbeda dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gejala alergi yang sebelumnya tidak pernah dirasakan.

Gejala Alergi Tidak Selalu Memburuk Seiring Usia

Meski alergi dapat muncul saat dewasa, Wada menjelaskan bahwa bertambahnya usia tidak selalu menyebabkan gejala alergi menjadi semakin berat.

Pada kelompok lanjut usia, gejala alergi justru umumnya mengalami perbaikan, terutama setelah seseorang berusia 65 tahun.

Kondisi tersebut berkaitan dengan proses immunosenescence, yaitu perubahan fungsi sistem kekebalan tubuh yang terjadi secara alami seiring pertambahan usia.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi cara tubuh merespons zat asing, termasuk alergen yang sebelumnya memicu reaksi alergi.

Dengan demikian, perkembangan gejala alergi pada setiap individu dapat berbeda sesuai kondisi sistem kekebalan tubuh dan faktor pemicunya.

Polusi Udara dan Paparan Serbuk Sari Perburuk Alergi

Selain perubahan kondisi tubuh, faktor lingkungan turut berperan dalam munculnya maupun meningkatnya gejala alergi pada orang dewasa.

Musim serbuk sari yang berlangsung semakin panjang dapat meningkatkan durasi paparan alergen bagi individu yang sensitif.

Peningkatan konsentrasi serbuk sari di udara juga berpotensi memperbesar risiko munculnya reaksi alergi.

Sementara itu, polusi udara dapat memperburuk kondisi dengan meningkatkan paparan zat yang memicu peradangan.

Kombinasi faktor lingkungan dan perubahan sistem kekebalan tubuh dapat membuat seseorang mengalami gejala alergi meskipun sebelumnya tidak memiliki keluhan serupa.

Dokter Ingatkan Perbedaan Rinitis Alergi dan Nonalergi

Dokter spesialis alergi dan imunologi Meagan W. Shepherd, MD, mengingatkan bahwa gejala seperti bersin berulang dan hidung tersumbat pada orang dewasa tidak selalu disebabkan oleh alergi.

Menurut dia, keluhan tersebut juga dapat berkaitan dengan rinitis nonalergi yang memiliki gejala menyerupai rinitis alergi.

Meski menunjukkan keluhan yang hampir sama, kedua kondisi tersebut memiliki penyebab dan metode penanganan yang berbeda.

Rinitis nonalergi dapat menimbulkan hidung tersumbat serta lendir yang mengalir ke bagian belakang tenggorokan atau postnasal drip.

Namun, kondisi tersebut biasanya tidak disertai rasa gatal sebagaimana yang sering ditemukan pada penderita rinitis alergi.

Perbedaan karakteristik gejala tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika seseorang mengalami gangguan pada hidung secara berulang.

Shepherd menyarankan masyarakat yang mengalami gejala alergi baru atau keluhan yang semakin mengganggu untuk berkonsultasi dengan dokter.

Pemeriksaan medis diperlukan agar penyebab keluhan dapat diketahui secara tepat sehingga pasien memperoleh diagnosis dan penanganan yang sesuai.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026