
Pantau - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengumumkan bahwa pemerintah akan menyusun buku sejarah tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada periode 1945–1949.
Penulisan ini akan mencakup fase penting dari proklamasi kemerdekaan, pengakuan kedaulatan oleh Belanda, pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS), hingga pembubaran RIS dan kembalinya ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Tahun ini, kita rencanakan juga akan menulis buku sejarah tentang satu periode penting, yaitu periode kalau pihak Belanda itu mengatakan periode revolusi, tapi kita mengatakan ini periode perang mempertahankan kemerdekaan, yaitu 1945–1949,” ujar Fadli.
Penulisan Sejarah Diplomasi, Politik, dan Pertempuran
Fadli menekankan bahwa buku tersebut akan memuat berbagai aspek sejarah secara komprehensif, termasuk peristiwa diplomasi, politik, dan pertempuran yang terjadi dalam kurun waktu tersebut.
“Ini juga menjadi bagian yang penting untuk diketahui generasi selanjutnya,” tegasnya.
Pemerintah sebelumnya telah meluncurkan buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” pada 14 Desember 2025, hasil kerja 134 sejarawan dari 34 perguruan tinggi di Indonesia.
Fadli menyebut Direktorat Sejarah Kementerian Kebudayaan memiliki peran penting dalam pengembangan sejarah nasional.
“Karena banyak orang selalu mengatakan sejarah itu penting, jangan lupa pada sejarah, jangan meninggalkan sejarah, tetapi kadang-kadang kita tidak menulis sejarah,” ujarnya.
Dorong Penulisan Sejarah Kerajaan Nusantara
Selain sejarah perjuangan kemerdekaan, Fadli juga mendorong penulisan sejarah kerajaan-kerajaan besar Nusantara, seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Pajajaran, yang selama ini sebagian besar ditulis oleh pihak asing.
“Begitu juga dengan Pajajaran, tidak ada buku tentang Kerajaan Pajajaran atau kerajaan-kerajaan besar yang lain. Jadi menurut saya ini sangat penting untuk kita tulis,” ucapnya.
Ia berharap buku-buku sejarah yang ditulis ke depan tidak hanya menjadi arsip, tetapi juga bahan diskusi dan dialektika di tengah masyarakat.
“Mudah-mudahan ke depan kita mempunyai banyak buku-buku ini, tapi tentu tidak hanya sekedar buku ini mau diapakan. Tentu buku ini kita harapkan bisa menjadi sebuah diskursus, diperdebatkan,” tutup Fadli.
- Penulis :
- Gerry Eka








