Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Waspadai "Super Flu", DPR Minta Pemerintah Perkuat Sistem Kesehatan dan Edukasi Publik

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Waspadai "Super Flu", DPR Minta Pemerintah Perkuat Sistem Kesehatan dan Edukasi Publik
Foto: Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto (sumber: DPR RI)

Pantau - Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah merespons temuan kasus super flu di Indonesia secara terukur dan berbasis sistem, tanpa memicu kepanikan di tengah masyarakat.

Varian Baru dengan Penularan Lebih Cepat

Super flu merujuk pada influenza A (H3N2) subclade K, yakni varian baru influenza yang lebih mudah menular dan telah menyebar di berbagai negara.

Varian ini menunjukkan peningkatan kasus yang signifikan akibat ketidaksesuaian vaksin flu musim ini dengan strain dominan serta rendahnya kekebalan populasi terhadap subclade tersebut.

Menurut Edy, virus ini memiliki penularan lebih cepat, terutama pada anak-anak, remaja, dan kelompok lansia yang lebih rentan.

Ia menyampaikan bahwa istilah super flu telah terpantau dalam sistem surveilans kesehatan nasional.

Meski masyarakat diimbau untuk tidak panik secara berlebihan, Edy mengingatkan agar pemerintah tidak lengah dalam mengantisipasi penyebaran virus.

"Yang penting sekarang adalah memastikan kesiapsiagaan sistem kesehatan berjalan baik. Jangan hanya menyampaikan bahwa situasi aman, tetapi juga memastikan layanan kesehatan primer benar-benar siap di lapangan," ungkapnya.

Perlu Kesiapan Anggaran dan Protokol Kesehatan yang Jelas

Edy menegaskan bahwa isu super flu bukan hanya persoalan medis, tetapi juga menyangkut kesiapan anggaran kesehatan nasional.

Ia menilai anggaran perlu diarahkan pada pencegahan, deteksi dini, dan penguatan surveilans penyakit, bukan hanya untuk respons setelah kasus meningkat.

"Penguatan puskesmas, laboratorium, dan sistem pelaporan penyakit menular harus menjadi prioritas belanja kesehatan. Ini penting untuk melindungi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan masyarakat dengan penyakit penyerta," ia mengungkapkan.

Edy juga meminta Kementerian Kesehatan segera mengeluarkan dan memperbarui protokol kesehatan yang jelas dan mudah dipahami publik untuk menghadapi peningkatan kasus influenza.

"Protokol kesehatan harus disampaikan secara terbuka dan konsisten. Termasuk soal penggunaan masker pada kondisi tertentu, kebersihan tangan, serta panduan bagi sekolah dan fasilitas umum," tegasnya.

Ia mengingatkan agar pemerintah tidak menyampaikan komunikasi yang bersifat sensasional, karena pengalaman pandemi COVID-19 membuktikan bahwa informasi tidak utuh bisa menimbulkan kepanikan dan disinformasi.

"Kita perlu narasi yang berbasis data dan sains. Edukasi publik jauh lebih penting daripada istilah-istilah yang menimbulkan kekhawatiran," ujarnya.

Edy mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan disiplin menjaga kesehatan.

Ia meminta publik mengikuti anjuran resmi pemerintah, tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan di media sosial, serta tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Penulis :
Shila Glorya