
Pantau - Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi utama untuk membentuk pemimpin nasional yang kritis, kreatif, dan adaptif di tengah kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).
Literasi Harus Kuat agar Teknologi Digunakan secara Bertanggung Jawab
Dalam pernyataannya, Aminudin menyampaikan bahwa teknologi adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak, namun tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir manusia.
"Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kalah cepat dengan kecerdasan buatan. Literasi harus menjadi fondasi agar teknologi dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab," ujarnya.
Menurutnya, rendahnya literasi di Indonesia bukan hanya disebabkan oleh kurangnya minat baca, melainkan karena terbatasnya bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan ketertarikan masyarakat.
Saat ini, Perpusnas mengelola lebih dari 9,7 juta eksemplar koleksi, mulai dari buku cetak, majalah, peta, monograf, audiovisual, buku digital, hingga koleksi deposit nasional sebagai rekaman pengetahuan bangsa.
Teknologi AI juga dimanfaatkan oleh Perpusnas untuk mendokumentasikan dan melestarikan bahasa daerah yang jumlahnya lebih dari 700, sebagian di antaranya terancam punah.
"Bahasa daerah tidak boleh tiba-tiba hilang. Data kebahasaan harus dikumpulkan, direkam, dan didukung teknologi agar bisa diwariskan lintas generasi," tegas Aminudin.
Penguatan Literasi Harus Merata dan Tidak Bergantung pada Digital
Meski mendukung pemanfaatan teknologi, Aminudin menegaskan bahwa penguatan literasi tidak boleh hanya bergantung pada media digital.
Perpusnas tetap memprioritaskan distribusi buku cetak ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Di banyak daerah, jangan bicara dulu soal aplikasi atau AI. Buku masih menjadi alat literasi paling efektif. Ketika buku hadir, anak-anak justru menunjukkan antusiasme yang luar biasa," jelasnya.
Ia juga menyebut pentingnya literasi digital untuk menangkal disinformasi.
Dengan literasi digital, masyarakat bisa mengenali konten manipulatif dan fitnah secara ilmiah serta bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.
Aminudin menambahkan bahwa data literasi harus dijadikan dasar untuk penyusunan kebijakan pengembangan SDM secara nasional, bukan sekadar bahan saling menyalahkan.
Perpusnas terus memperkuat literasi melalui penyediaan bahan bacaan yang relevan, pengembangan taman bacaan masyarakat, serta distribusi buku ke sekolah-sekolah dan desa-desa.
Selain itu, Perpusnas mendorong Gerakan Relawan Literasi Masyarakat (Relima), yakni program berbasis partisipasi masyarakat yang melibatkan mahasiswa dan pemangku kepentingan lokal dalam penguatan budaya baca dan literasi.
- Penulis :
- Aditya Yohan








