
Pantau - Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto meminta pemerintah memperkuat intensifikasi pertanian sebagai langkah utama mencegah krisis pangan di tengah ancaman geopolitik global dan perubahan iklim.
Permintaan tersebut disampaikan Titiek usai rapat kerja dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Fokus pada Intensifikasi, Bukan Perluasan Lahan
Titiek menegaskan bahwa kebijakan pertanian sebaiknya tidak lagi berfokus pada ekstensifikasi atau perluasan lahan karena membutuhkan biaya besar dan waktu panjang.
Ia mengungkapkan, "Tadi, kami sampaikan ke Pak Menteri (Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman) supaya kalau mengenai pangan ini, mengenai beras sebaiknya kita jangan terlalu bicara besar-besar mengenai ekstensifikasi dari pada lahan pertanian ini, tapi yang penting intensifikasi."
Menurutnya, intensifikasi dapat dilakukan dengan meningkatkan frekuensi tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun untuk mendongkrak produksi secara efisien.
Ia menambahkan, "Nah, ini kan jumlahnya nanti juga akan sama gitu, dari pada kita ekstensifikasi, biayanya mahal."
Selain itu, Titiek menyoroti pentingnya ketersediaan air melalui bantuan pompa dan perbaikan irigasi guna menjaga produktivitas pertanian.
Ia mengatakan, "Bantuan-bantuan pompa air diperbanyak. Kemudian saluran irigasi diperbaiki supaya ini hasil dari pada pertanian kita bisa meningkat."
Ancaman Global dan Stok Beras Nasional
Dalam rapat tersebut, Titiek juga menyinggung dampak ketegangan geopolitik global, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga bahan bakar yang dapat memengaruhi distribusi pangan.
Ia juga mengingatkan ancaman fenomena El Nino yang berpotensi menyebabkan kekeringan panjang sehingga perlu diantisipasi sejak dini.
Meski demikian, pemerintah memastikan stok pangan nasional masih aman.
Titiek menyampaikan, "Tadi, sudah dijelaskan oleh Pak Menteri bahwa kalau stok kita Alhamdulillah, insya Allah cukup, stok pangan terutama beras."
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan cadangan beras pemerintah mencapai 4,6 juta ton per 7 April 2026 yang menjadi rekor tertinggi.
Ia menjelaskan, "Cadangan beras hari ini, per tadi pagi tanggal 7 April 2026 mencapai 4,6 juta ton. Jadi, kemarin 4,5, sekarang 4,6 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah."
Langkah intensifikasi pertanian dan penguatan infrastruktur air diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan global dan perubahan iklim.
- Penulis :
- Aditya Yohan








