HOME  ⁄  Nasional

Pembongkaran Fasad Eks Toko Nam Surabaya Jadi Simbol Penataan Kota dan Penegasan Sejarah Autentik

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pembongkaran Fasad Eks Toko Nam Surabaya Jadi Simbol Penataan Kota dan Penegasan Sejarah Autentik
Foto: (Sumber: Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai membongkar fasad eks Toko Nam di Jalan Embong Malang, Kota Surabaya, Kamis (23/4/2026) malam, dengan target penyelesaian selama tiga hingga lima hari. (ANTARA-HO/Diskominfotik Surabaya).)

Pantau - Pemerintah Kota Surabaya melakukan pembongkaran fasad eks Toko Nam di Jalan Embong Malang sebagai bagian dari penataan ulang kota sekaligus penegasan ingatan kolektif yang lebih akurat.

Pembongkaran tersebut ditargetkan selesai dalam tiga hingga lima hari dengan pelaksanaan pada malam hari guna mengurangi gangguan lalu lintas dan menjaga keselamatan.

Fasad itu dinilai bukan bagian asli bangunan bersejarah sehingga tidak memenuhi kriteria sebagai cagar budaya berdasarkan hasil kajian pemerintah kota.

Langkah ini disebut sebagai simbol pertemuan antara kebutuhan kota modern dan upaya merawat sejarah secara autentik.

Toko Nam pada masanya dikenal sebagai pelopor ritel modern di Surabaya sejak awal abad ke-20.

Toko ini memperkenalkan layanan antar barang yang pada masa itu tergolong inovatif bagi masyarakat.

Lokasinya di kawasan Tunjungan dan Embong Malang menjadikannya pusat aktivitas ekonomi dan sosial kota.

Pada periode 1960-an hingga 1980-an, Toko Nam mencapai masa kejayaan sebagai toko serba ada yang diminati berbagai kalangan.

Perubahan lanskap ekonomi akibat hadirnya pusat perbelanjaan modern kemudian membuat Toko Nam kehilangan daya saing.

Bangunan asli akhirnya dibongkar pada akhir 1990-an dan digantikan dengan kompleks komersial baru.

Fasad yang dibangun setelahnya hanya berupa simbol tanpa dasar rekonstruksi arkeologis yang utuh sehingga memunculkan ambiguitas antara sejarah asli dan interpretasi.

Selain itu, keberadaan struktur tersebut dinilai mengganggu trotoar dan ruang pejalan kaki.

Proses pembongkaran dilakukan bertahap mulai dari pelepasan besi penguat, pembongkaran struktur beton, hingga perbaikan pedestrian.

Pembongkaran ini membuka peluang untuk menghadirkan narasi sejarah yang lebih jelas dan akurat kepada masyarakat.

Pemerintah kota berencana mengganti fasad dengan penanda atau tetenger sebagai pengingat sejarah Toko Nam.

Upaya pelestarian sejarah ke depan dinilai perlu dilakukan secara lebih komprehensif melalui pemanfaatan teknologi digital dan integrasi dalam ruang publik.

Toko Nam tetap dipandang sebagai bagian penting dalam evolusi ekonomi dan sosial Kota Surabaya.

Pembongkaran ini juga menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pelestarian bangunan bersejarah agar lebih autentik.

Penataan ulang trotoar dilakukan untuk mengembalikan fungsi ruang publik bagi pejalan kaki.

Langkah tersebut mencerminkan upaya menyeimbangkan antara menjaga sejarah dan memenuhi kebutuhan kota modern.

Pembongkaran ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menjadi refleksi cara kota memahami dan menyampaikan sejarahnya.

Penulis :
Gerry Eka