HOME  ⁄  Nasional

Bonnie Triyana Tekankan Majalah Parlementaria Harus Tetap Jadi Arsip Sejarah DPR RI

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Bonnie Triyana Tekankan Majalah Parlementaria Harus Tetap Jadi Arsip Sejarah DPR RI
Foto: Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, dalam Diskusi Publik HUT ke-58 Majalah Parlementaria bertema “Sejarah Parlementaria: Media Cetak Resmi DPR sebagai Arsip Nasional”, yang diselenggarakan di Ruang Abdul Muis, di Gedung Nusantara, DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis 4/6/2026 (sumber: DPR RI)

Pantau - Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, menegaskan pentingnya menjaga keberadaan Majalah Parlementaria sebagai media resmi DPR RI sekaligus arsip sejarah perjalanan parlemen Indonesia dalam Diskusi Publik HUT ke-58 Majalah Parlementaria bertema "Sejarah Parlementaria: Media Cetak Resmi DPR sebagai Arsip Nasional" yang digelar di Ruang Abdul Muis, Kamis (4/6/2026).

Bonnie menilai Majalah Parlementaria memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar media pemberitaan karena menjadi sumber dokumentasi penting perjalanan parlemen Indonesia sejak pertama kali terbit pada 1968.

Ia mengatakan, "Majalah Parlementaria itu saya ingin meletakkannya sebagai saksi sejarah DPR sendiri. Kalau kita lihat sejak tahun 1968 ketika majalah ini pertama kali terbit, berbagai kegiatan penting parlemen terdokumentasi dan terkurasi di dalamnya. Sebagai sumber dan rujukan tentang apa yang terjadi di parlemen, rujukan pertamanya adalah Majalah Parlementaria."

Menurut Bonnie, seluruh edisi Majalah Parlementaria perlu dihimpun, diarsipkan, dan dirawat secara berkelanjutan untuk menjaga rekam jejak kelembagaan DPR RI sekaligus menjadi bagian dari memori kolektif bangsa Indonesia.

Ia menekankan bahwa pelestarian arsip parlemen harus menjadi perhatian jangka panjang agar dokumen-dokumen penting tidak hilang di masa mendatang.

Selain menyoroti aspek sejarah, Bonnie juga membahas tantangan yang dihadapi media cetak di tengah perkembangan teknologi informasi yang mengubah pola konsumsi media masyarakat.

Menurutnya, format cetak Majalah Parlementaria masih dapat dipertahankan, namun akses terhadap isi majalah perlu diperluas melalui platform digital dan berbagai bentuk penyajian yang lebih menarik.

Ia mengatakan, "Kalau format cetaknya dipertahankan tidak masalah. Tetapi aksesnya harus lebih luas melalui versi daring dan berbagai bentuk penyajian lain yang lebih menarik, khususnya bagi generasi muda."

Bonnie mendorong penyajian informasi yang kreatif agar masyarakat, terutama generasi muda, dapat lebih mudah memahami berbagai tugas dan fungsi DPR RI, termasuk pembahasan isu pendidikan, kesejahteraan guru, perluasan akses pendidikan, dan peningkatan layanan pendidikan yang kerap dibahas Komisi X DPR RI.

Ia menjelaskan, "Kalau DPR adalah jembatan masyarakat kepada pemerintah, maka Parlementaria adalah jembatan parlemen kepada publik. Di sinilah masyarakat bisa mengetahui apa yang kami lakukan, capaian-capaian yang dihasilkan, termasuk berbagai diskusi dan dinamika yang terjadi di DPR."

Dalam diskusi tersebut, Bonnie juga menyoroti pentingnya pelestarian arsip sejarah parlemen yang saat ini sebagian berada di luar negeri.

Ia mengusulkan pendekatan digital repatriation agar dokumen-dokumen bersejarah yang berada di luar Indonesia tetap dapat diakses secara digital oleh masyarakat dan peneliti di dalam negeri.

Selain itu, Bonnie mengusulkan penguatan fungsi Museum DPR RI sebagai pusat penyimpanan arsip dan dokumentasi sejarah parlemen sekaligus pusat rujukan bagi peneliti dan masyarakat umum.

Menurutnya, inventarisasi dan perawatan arsip harus segera dilakukan untuk mencegah hilangnya dokumen penting di masa depan.

Ia mengingatkan, "Jangan sampai lima, sepuluh, atau dua puluh tahun lagi kita kehilangan apa yang kita miliki hari ini. Karena itu usaha untuk menginventarisasi dan merawat arsip harus dimulai sekarang."

Secara keseluruhan, Bonnie menilai Majalah Parlementaria memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai media informasi resmi DPR RI dan sebagai arsip sejarah yang mendokumentasikan perjalanan parlemen Indonesia. Ia berharap keberadaan majalah tersebut terus dipertahankan dan dikembangkan agar tetap relevan di era digital sekaligus menjadi sumber sejarah yang bernilai bagi generasi mendatang.

Penulis :
Shila Glorya