HOME  ⁄  Nasional

Indonesia Tegaskan Prinsip Keadilan Hadapi Regulasi Deforestasi Uni Eropa dan Dorong Perlindungan Petani Kecil

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Indonesia Tegaskan Prinsip Keadilan Hadapi Regulasi Deforestasi Uni Eropa dan Dorong Perlindungan Petani Kecil
Foto: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang ditemui seusai agenda taklimat media di Jakarta, Kamis 16/4/2026 (sumber: ANTARA/Nabil Ihsan)

Pantau - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan komitmen Indonesia untuk tetap berpegang pada prinsip keadilan dan non-diskriminasi dalam menghadapi hambatan non-tarif dari Uni Eropa, khususnya terkait Regulasi Deforestasi Uni Eropa atau European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Sikap Indonesia terhadap EUDR

Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang menyampaikan sikap tersebut dalam pernyataan resmi yang menekankan pentingnya perlakuan adil bagi seluruh pelaku usaha, termasuk petani kecil.

“Terkait EUDR, Indonesia mendorong pengakuan standar nasional ISPO dan memastikan aturan tidak merugikan petani kecil,” ungkapnya.

Regulasi EUDR mewajibkan sejumlah komoditas seperti kakao, kopi, sawit, karet, kedelai, dan kayu untuk memenuhi standar bebas deforestasi serta mencakup aspek lingkungan dan sosial dalam rantai pasok.

Indonesia terus memperjuangkan akses pasar yang adil melalui dialog konstruktif dengan Uni Eropa dengan fokus utama melindungi petani kecil dan industri sawit nasional.

Upaya tersebut dilakukan melalui pertemuan bilateral dengan negara anggota Uni Eropa yang berlangsung di sela agenda tingkat Menteri ASEAN-Uni Eropa ke-25 di Filipina.

Penguatan Kerja Sama dan Target Ekonomi

Pertemuan tersebut juga bertujuan mempersiapkan implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa atau Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA) yang ditargetkan berlaku pada Januari 2027.

Selain itu, pembahasan mencakup diversifikasi pasar ekspor dan penguatan ekonomi digital sebagai bagian dari strategi memperkuat daya saing nasional.

Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha C. Nasir mendorong agar kemitraan ASEAN-Uni Eropa dapat memberikan manfaat nyata bagi kawasan.

Indonesia juga memprioritaskan penguatan ketahanan ekonomi dalam menghadapi dampak konflik global seperti kenaikan harga energi, pangan, serta gangguan rantai pasok.

Di tingkat global, Indonesia mendorong reformasi sistem multilateral agar lebih inklusif dan responsif terhadap tantangan saat ini.

Dalam sektor energi, Indonesia mempercepat transisi energi hijau dengan dukungan Uni Eropa melalui program kerja sama yang diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Pernyataan bersama pertemuan Menteri ASEAN-Uni Eropa turut menyoroti kerja sama sektor sawit melalui Joint Working Group yang bertujuan membangun pemahaman bersama secara transparan dan non-diskriminatif.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menyebut Uni Eropa mulai melunak terhadap kebijakan EUDR.

“IEU CEPA membawa banyak keuntungan bagi Indonesia. Selain membuka akses pasar yang lebih luas, kemitraan ekonomi itu juga melunakkan segala hambatan dagang, termasuk EUDR,” demikian disampaikan.

Penulis :
Leon Weldrick