
Pantau - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 dinilai tidak hanya menjadi momentum perayaan buruh, tetapi juga mengingatkan kembali jejak historis istilah “kuli” yang dinilai masih membekas dalam realitas pekerja hingga kini.
Pergeseran Istilah, Substansi Belum Tuntas
Dalam telaah yang ditulis Dadan Ramdani, disebutkan bahwa istilah “buruh” dianggap lebih manusiawi dibanding “kuli”, namun perubahan istilah tersebut belum sepenuhnya diikuti perubahan kondisi nyata.
Ia menyoroti bahwa setiap 1 Mei, buruh menjadi pusat perhatian melalui aksi dan demonstrasi, meski pada hari-hari biasa mereka kerap luput dari sorotan.
"Kuli" dan "buruh" mengingatkan kita bahwa pergantian label belum tentu menghapus warisan masa lalu, tulisnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perayaan May Day masih menyisakan persoalan mendasar terkait pengakuan dan kesejahteraan pekerja.
Jejak Sejarah dan Realitas Pekerja
Telaah tersebut juga menyinggung sejarah panjang eksploitasi tenaga kerja sejak masa kolonial, termasuk sistem tanam paksa pada abad ke-19 yang membatasi ruang tawar pekerja.
Multatuli dalam karyanya Max Havelaar pernah menuliskan seruan "Ik wil gehoord worden!" yang berarti "Aku ingin didengar.", yang menggambarkan tuntutan dasar pekerja untuk mendapatkan pengakuan.
Selain itu, praktik di perkebunan Deli, Sumatra Timur, juga menjadi contoh sistem kerja yang menempatkan kuli sebagai objek tanpa posisi tawar.
Johannes van den Brand mencatat kondisi tersebut dengan pernyataan, "Kuli adalah angka, bukan manusia.", yang menggambarkan bagaimana pekerja diperlakukan dalam sistem ekonomi saat itu.
Telaah ini menegaskan bahwa meskipun istilah telah berubah, tantangan untuk menghadirkan keadilan dan pengakuan terhadap pekerja masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





