
Pantau - Posisi buruh Indonesia dinilai masih berada di lapisan terbawah dalam rantai pasok global sehingga berdampak pada rendahnya upah dan lemahnya daya tawar pekerja di tengah persaingan ekonomi internasional.
Tekanan Global terhadap Upah Buruh
Fenomena ini mengemuka dalam refleksi peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang menyoroti bahwa persoalan buruh tidak hanya ditentukan faktor domestik.
Upah buruh disebut tidak semata-mata bergantung pada kebijakan pemerintah atau negosiasi industrial, tetapi juga pada posisi Indonesia dalam sistem produksi global atau global production networks.
Dalam sistem tersebut, negara maju menguasai sektor bernilai tinggi seperti desain, teknologi, dan merek, sementara Indonesia masih berperan sebagai penyedia tenaga kerja dan bahan mentah.
Kondisi ini membuat tekanan untuk menjaga upah tetap rendah tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga akibat kompetisi dengan negara lain seperti Vietnam, Bangladesh, dan India.
Risiko Jebakan Upah Rendah
Dalam perspektif teori sistem dunia (world-systems theory), Indonesia dinilai masih berada pada posisi periferi atau semi-periferi yang belum menguasai nilai tambah produksi.
Situasi ini memicu kekhawatiran relokasi industri ketika upah minimum naik karena modal global cenderung berpindah ke negara dengan biaya produksi lebih murah.
Selain itu, tekanan global juga berdampak pada kualitas kerja seperti jam kerja panjang, kontrak tidak pasti, dan minimnya perlindungan sosial.
Kondisi tersebut berpotensi menjerumuskan Indonesia dalam jebakan ekonomi berupah rendah atau low-wage trap jika tidak diimbangi strategi peningkatan nilai tambah dalam rantai produksi global.
Sebagai refleksi May Day, persoalan buruh dinilai perlu dilihat secara lebih luas, tidak hanya dalam konteks hubungan industrial nasional, tetapi juga dalam posisi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





