
Pantau - Pengamat transportasi Ki Darmaningtyas menilai pembangunan underpass lebih realistis dibandingkan flyover untuk mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api di Jakarta.
Underpass Dinilai Lebih Efektif dan Terjangkau
Darmaningtyas mengatakan keterbatasan anggaran menjadi alasan utama pembangunan jalur layang sulit direalisasikan secara luas.
"Kalau ada dananya, mungkin lewat underpass lebih baik," katanya.
Ia menambahkan pemerintah perlu memperbanyak fasilitas penyeberangan aman untuk mengurangi potensi kecelakaan di perlintasan sebidang.
Selain pembangunan infrastruktur, ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak melanggar aturan saat melintasi rel kereta.
"Pemerintah tetap perlu melakukan pengawasan yang konsisten," ucapnya.
Data Kecelakaan Masih Tinggi
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan tahun 2026, tercatat 40 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang.
Sebanyak 57,5 persen kecelakaan terjadi di perlintasan tanpa palang pintu, sementara 42,5 persen lainnya terjadi di perlintasan berpalang.
Faktor utama kecelakaan didominasi perilaku pengendara yang menerobos sebanyak 34 kasus, disusul kendaraan mogok dan keterlambatan penutupan palang pintu.
Insiden tersebut menyebabkan 25 orang meninggal dunia, lima luka berat, dan 11 luka ringan, dengan kendaraan yang terlibat terdiri dari mobil dan sepeda motor.
Pengamat menegaskan kombinasi pembangunan underpass, pengawasan ketat, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan angka kecelakaan di perlintasan kereta.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





