
Pantau - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyebut implementasi teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy (WtE) menjadi solusi untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih.
“Persoalan sampah menjadi prioritas Presiden Prabowo dan ini perlu diapresiasi. Karena pendekatan konvensional dalam pengelolaan sampah tidak lagi memadai,” kata Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Pernyataan itu disampaikan Eddy saat menjadi pembicara dalam agenda Parlemen Kampus 2026 hasil kerja sama DPR RI dan Universitas Sebelas Maret Surakarta di Gedung DPR RI, Selasa (5/5).
PLTSa Dinilai Jadi Langkah Strategis Atasi Darurat Sampah
Eddy mengatakan Indonesia saat ini menghadapi kondisi darurat sampah karena timbunan sampah nasional mencapai lebih dari 56 juta ton per tahun.
Menurut dia, sekitar 61 persen sampah masih belum terkelola dengan baik dan sebagian besar berakhir di tempat pembuangan terbuka.
“Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga kesehatan publik serta efisiensi ekonomi nasional,” ujarnya.
Ia menilai pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau PLTSa menjadi langkah strategis dalam mendukung ekonomi sirkular dan energi terbarukan.
Eddy juga menyebut sejumlah negara seperti Tiongkok, Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat telah berhasil mengembangkan teknologi waste-to-energy.
Perpres Baru Dinilai Perkuat Investasi Energi Berbasis Sampah
Menurut Eddy, Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan menjadi tonggak penting percepatan pengembangan PLTSa nasional.
Regulasi tersebut memberikan kepastian tarif listrik sebesar 20 sen dolar AS per kWh, kontrak hingga 30 tahun, serta jaminan pasokan sampah minimal 1.000 ton per hari.
“Selain itu, penghapusan skema tipping fee dari APBD dan pengalihan pembiayaan ke APBN dapat meningkatkan daya tarik investasi sekaligus meringankan beban fiskal pemerintah daerah,” katanya.
Eddy menambahkan pengembangan 33 lokasi PLTSa di Indonesia diperkirakan mampu menghasilkan listrik hingga 660 MW dan membuka peluang perdagangan karbon hingga 30 miliar dolar AS pada 2030.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan akademisi dan mahasiswa dalam pengembangan teknologi serta tata kelola pengolahan sampah berbasis energi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





