
Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menilai peluncuran program P&G Health Indonesia University Partnership sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekosistem kesehatan nasional melalui kolaborasi industri dan perguruan tinggi di Jakarta dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional.
Program yang diinisiasi Procter & Gamble Health Indonesia ini melibatkan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan Universitas Padjadjaran dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan tenaga kesehatan melalui pembelajaran yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan dunia nyata.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan bahwa program ini sejalan dengan model kolaborasi Academia-Business-Government yang tengah dikembangkan lembaganya.
Ia mengungkapkan, "Hingga saat ini BPOM telah menjalin kerja sama dengan sekitar 180 perguruan tinggi di Indonesia yang diimplementasikan dalam kerangka Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat."
Kolaborasi Pembelajaran dan Penguatan Kompetensi
Dalam implementasinya, kolaborasi dengan Fakultas Kesehatan Unika Atma Jaya menghadirkan metode pembelajaran berbasis e-learning, video edukasi, e-book, serta buku cetak dengan target menjangkau lebih dari 500 peserta hingga Juni 2026.
Sementara itu, kerja sama dengan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran difokuskan pada peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui program e-learning bertema Patient Counseling & Rational Use of Oxymetazoline yang bertujuan meningkatkan pemahaman penanganan rinitis akut secara rasional dan berbasis bukti.
Materi pembelajaran dalam program ini mencakup penanganan anemia, rinitis akut, dan neuropati perifer sebagai fokus utama yang relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Peran BPOM dan Harapan Replikasi Nasional
BPOM berperan sebagai regulator yang menjembatani kebutuhan industri dengan potensi riset perguruan tinggi agar hasil penelitian memenuhi standar regulasi, dapat dihilirisasi, dikomersialisasikan, dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Taruna Ikrar menegaskan, "Tentunya dilaksanakan dengan dukungan dan pendampingan BPOM untuk memastikan setiap inovasi dan program berjalan sesuai standar keamanan, kemanfaatan, dan mutu, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan masyarakat."
Ia juga berharap program ini dapat menjadi model kemitraan yang dapat direplikasi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia guna menciptakan ekosistem pembelajaran yang tidak hanya berbasis teori tetapi juga berdampak nyata.
Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia Noffendri menyebutkan terdapat sekitar 115 program studi profesi apoteker di Indonesia dengan sekitar 14.000 lulusan setiap tahunnya.
Ia menilai sinergi dalam program ini penting untuk meningkatkan kualitas lulusan agar lebih siap menghadapi kebutuhan pelayanan kefarmasian di masyarakat.
- Penulis :
- Arian Mesa





