HOME  ⁄  Nasional

Indef Nilai Skema Swap Currency Mampu Stabilkan Rupiah dalam Jangka Pendek

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Indef Nilai Skema Swap Currency Mampu Stabilkan Rupiah dalam Jangka Pendek
Foto: (Sumber: Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti, Jakarta, Rabu (8/4/2026) (ANTARA/HO-INDEF).)

Pantau - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai kerja sama pertukaran mata uang antarnegara atau swap currency dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek di tengah tekanan ekonomi global.

Swap Currency Dinilai Perkuat Likuiditas Devisa

Esther mengatakan kebijakan swap currency memiliki dampak positif karena mampu memperkuat akses likuiditas valuta asing sehingga dapat menahan pelemahan rupiah terhadap mata uang asing.

“Menurut saya swap currency ada positifnya, namun ini bukan solusi jangka panjang,” kata Esther kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan kerja sama pembiayaan non-dolar juga dapat memperkuat cadangan devisa serta mendukung kebutuhan transaksi dan pembayaran utang luar negeri.

“Penguatan likuiditas memperkuat cadangan devisa dan memastikan ketersediaan dana untuk kebutuhan transaksi atau pembayaran utang luar negeri,” ujarnya.

Menurut dia, diversifikasi pembiayaan penting dilakukan guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat melalui penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional.

Esther menambahkan skema cross currency swap juga membantu pelaku usaha memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar dan suku bunga.

Bukan Solusi Jangka Panjang

Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar 148,4 miliar dolar AS.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (6/5) ditutup menguat ke level Rp17.387 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.424 per dolar AS.

Meski demikian, Esther mengingatkan bahwa kebijakan swap currency bukan solusi utama untuk memperkuat fundamental ekonomi domestik.

“Swap adalah alat stabilisasi sementara, bukan obat utama untuk memperkuat fundamental ekonomi domestik,” ucapnya.

Ia menilai penguatan fundamental ekonomi tetap harus dilakukan melalui penguatan likuiditas dan diversifikasi pembiayaan agar tidak terlalu bergantung pada dolar AS.

Esther juga menekankan Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar melalui operasi pasar apabila cadangan devisa dinilai memadai.

“Bank Indonesia juga harus melakukan operasi pasar agar nilai tukar stabil dengan catatan cadangan devisa dolar AS cukup,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah bersama Bank Indonesia tengah menyiapkan kerja sama swap currency dengan China, Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara lain untuk menjaga stabilitas rupiah.

Penulis :
Ahmad Yusuf