
Pantau - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 93 poin atau 0,52 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026, sehingga berada di level Rp17.952 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.859 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dinilai dipengaruhi oleh meningkatnya probabilitas pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve atau The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelaku pasar kini melihat peluang yang lebih besar bagi bank sentral AS untuk kembali menaikkan suku bunga.
Probabilitas Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat
Ibrahim mengungkapkan, "Para pedagang sekarang melihat probabilitas yang jauh lebih tinggi untuk pengetatan kebijakan Fed dalam beberapa bulan mendatang setelah pertemuan kebijakan minggu lalu dan komentar yang agresif dari para pejabat."
Ia melanjutkan, "Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sekitar 70 persen pada bulan September, dan sepenuhnya memperkirakan kenaikan lainnya pada bulan Desember."
Sentimen tersebut muncul setelah pertemuan kebijakan The Fed pada pekan sebelumnya serta pernyataan bernada agresif dari sejumlah pejabat bank sentral AS.
Selain faktor kebijakan moneter AS, pasar juga mencermati perkembangan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat yang masih diliputi ketidakpastian.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu.
Namun, pemerintah Iran membantah telah memberikan konsesi tersebut dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Evaluasi MSCI Jadi Perhatian Pelaku Pasar
Dari dalam negeri, pasar merespons positif keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menunda penilaian aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026.
Perpanjangan masa peninjauan dilakukan setelah muncul kekhawatiran terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada awal tahun ini.
MSCI sebelumnya membekukan perubahan terhadap indeks ekuitas Indonesia pada Januari 2026 karena persoalan investability atau kemudahan investasi di pasar domestik.
Ibrahim mengatakan, "Peninjauan yang diperpanjang ini menyusul kekhawatiran yang muncul awal tahun ini mengenai aksesibilitas pasar, dengan penyedia indeks membekukan perubahan pada indeks ekuitas Indonesia pada Januari karena masalah investability."
Proses evaluasi status pasar Indonesia masih terus berlangsung dan hasilnya akan menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam beberapa bulan mendatang.
Evaluasi MSCI dinilai penting karena mencerminkan pandangan investor internasional terhadap kualitas pasar modal Indonesia, tingkat keterbukaan pasar, serta efisiensi pasar modal domestik.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan pelemahan rupiah.
Kurs JISDOR pada Rabu tercatat di level Rp17.955 per dolar AS.
Posisi tersebut melemah dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.868 per dolar AS.
- Penulis :
- Arian Mesa





