HOME  ⁄  Nasional

Pemerintah Malaysia Soroti Cepatnya Penyebaran Hoaks di Era AI

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pemerintah Malaysia Soroti Cepatnya Penyebaran Hoaks di Era AI
Foto: (Sumber: Dari kiri, Pemimpin BERNAMA Wong Chun Wai, Wakil Menteri Komunikasi Malaysia Teo Nie Ching, Deputy Secretary General Kementerian Komunikasi Malaysia Nik Kamaruzaman, dan CEO BERNAMA Nurul Afida Kamaludin, dalam acara pembukaan Forum Media Hawana 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (7/5/2026). (ANTARA/).)

Pantau - Wakil Menteri Komunikasi Malaysia Teo Nie Ching menyoroti semakin cepatnya penyebaran informasi palsu atau hoaks di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Pernyataan itu disampaikan Teo saat membuka Forum Media Hari Wartawan Nasional (Hawana) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis.

"Sebagai Wakil Menteri Komunikasi, saya sangat prihatin melihat betapa cepatnya informasi palsu dapat membentuk persepsi publik saat ini. Berita, baik benar maupun salah, dapat menyebar dalam hitungan detik dan mempengaruhi cara masyarakat berpikir, bereaksi, serta mengambil keputusan," kata Teo.

Ia mengungkapkan bahwa dalam periode 29 Maret hingga 30 April 2026, sebanyak 464 konten palsu terkait krisis pasokan global teridentifikasi di Malaysia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 312 konten berhasil diturunkan, 65 laporan investigasi dibuka, dan 15 kasus dirujuk ke Kejaksaan Agung Malaysia.

Kasus Penipuan Digital Terus Meningkat

Teo mengatakan perkembangan teknologi AI turut mempercepat penyebaran misinformasi melalui teknologi deepfake dan berbagai modus penipuan digital yang semakin sulit dideteksi.

Menurut data pemerintah Malaysia, kasus penipuan berbasis digital meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2023 tercatat sebanyak 6.297 kasus penipuan digital di Malaysia.

Jumlah tersebut melonjak menjadi 63.652 kasus pada 2024 dan meningkat lagi menjadi 98.503 kasus sepanjang 2025.

Sementara sejak Januari hingga 30 April 2026, sebanyak 60.829 konten serupa telah berhasil diturunkan oleh platform digital.

"Di tengah berbagai tantangan ini, satu prinsip tetap tidak berubah: jurnalisme adalah pilar demokrasi dan sumber terpercaya bagi informasi yang telah diverifikasi," ujar Teo.

Media Konvensional Dinilai Tetap Relevan

Teo menegaskan kredibilitas media harus dibangun secara konsisten dan transparan di tengah maraknya misinformasi di ruang digital.

Ia juga menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu berpikir kritis dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.

"Saya menyadari bahwa mengendalikan penyebaran misinformasi dan disinformasi bukanlah tugas yang mudah. Karena itu, literasi digital di kalangan rakyat menjadi semakin penting," katanya.

Teo menilai media konvensional tetap relevan karena memiliki sentuhan manusia yang tidak dapat digantikan teknologi AI.

"Di tengah kemajuan teknologi, kita tidak boleh melupakan bahwa kekuatan sejati jurnalisme terletak pada sentuhan manusianya. Nilai-nilai seperti empati, etika, dan tanggung jawab tidak dapat digantikan oleh mesin," ungkapnya.

CEO BERNAMA Nurul Afida Kamaludin mengatakan Forum Media Hawana 2026 menjadi bagian dari rangkaian menuju puncak Hari Wartawan Nasional Malaysia yang akan digelar pada 20 Juni 2026 di Pulau Penang.

Penulis :
Ahmad Yusuf