HOME  ⁄  Nasional

Tradisi Nyadran Dam Bagong di Trenggalek Diawali Kirab Kerbau dan Prosesi Jamasan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Tradisi Nyadran Dam Bagong di Trenggalek Diawali Kirab Kerbau dan Prosesi Jamasan
Foto: Wakil Bupati Trenggalek Syah Mohamad Natanegara menerima Kirab Kerbau sebagai rangkaian awal tradisi Nyadran Dam Bagong di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Kamis (7/5/2026). (sumber: Prokopim Trenggalek)

Pantau - Wakil Bupati Trenggalek, Syah Mohamad Natanegara, menerima Kirab Kerbau sebagai rangkaian awal tradisi Nyadran Dam Bagong di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Trenggalek, sebagai bentuk pelestarian budaya turun-temurun masyarakat setempat.

Tradisi Nyadran Dam Bagong menjadi wujud rasa syukur masyarakat, khususnya para petani yang memanfaatkan aliran Sungai Bagongan untuk kebutuhan irigasi pertanian.

Dalam prosesi tersebut, Syah menerima kirab kerbau dan menyerahkan perlengkapan penyembelihan kepada petugas yang telah ditunjuk.

Setelah prosesi penyerahan dilakukan, kerbau kemudian dibawa menuju lokasi Nyadran Dam Bagong untuk menjalani penjamasan atau prosesi penyucian.

Syah berharap tradisi budaya tersebut dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Trenggalek.

"Tradisi ini harus terus dijaga dan dilestarikan karena menjadi identitas daerah sekaligus mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar," ungkap Syah.

Menurutnya, keberlangsungan tradisi budaya memiliki peran penting dalam memperkuat daya tarik budaya Kabupaten Trenggalek.

Rangkaian Prosesi Nyadran Dam Bagong

Lurah Ngantru, Bambang Wusprapto, menjelaskan rangkaian Nyadran Dam Bagong diawali dengan Kirab Mahesa dari pendopo kabupaten menuju kompleks Makam Menak Sopal.

Setelah kirab berlangsung, masyarakat melaksanakan prosesi jamasan dan ritual penyembelihan kerbau sebagai bagian utama tradisi adat tersebut.

Pada malam harinya, tradisi Nyadran Dam Bagong juga diisi dengan pertunjukan wayang kulit yang menjadi hiburan sekaligus pelengkap ritual budaya.

Simbol Syukur dan Kebersamaan Warga

Pada keesokan harinya, masyarakat melaksanakan prosesi adat pelemparan kepala, kulit, dan kaki kerbau di kawasan Dam Bagong.

Daging kerbau hasil penyembelihan kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan warga.

Pemerintah bersama masyarakat berharap tradisi Nyadran Dam Bagong tetap lestari tanpa menghilangkan rangkaian adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Penulis :
Arian Mesa