
Pantau - Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Cuk Tri Noviandi, menegaskan pelaksanaan kurban harus mengedepankan prinsip halal, aman, dan ihsan agar proses penyembelihan hewan berjalan sesuai syariat dan standar kesehatan.
Noviandi mengatakan kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga memastikan hewan diperlakukan dengan baik, proses aman bagi manusia, dan hasilnya layak dikonsumsi.
Menurut dia, kesalahan penanganan hewan masih sering terjadi di lapangan, mulai dari hewan mengalami stres hingga proses penyembelihan yang tidak sesuai standar.
Ia menyebut kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas daging dan menimbulkan risiko bagi panitia kurban.
Fakultas Peternakan UGM menggelar pelatihan penanganan kurban untuk membekali panitia dan masyarakat umum terkait pelaksanaan pemotongan hewan kurban menjelang Idul Adha 1447 Hijriah.
Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Budi Guntoro mengatakan pelatihan tidak hanya berisi teori, tetapi juga pengetahuan lengkap mulai dari fikih kurban hingga praktik penanganan hewan dan pengelolaan daging sesuai standar kesehatan.
Peserta pelatihan dibekali praktik pemotongan dan distribusi daging yang benar.
Materi pelatihan juga mencakup pemisahan daging dan jeroan, penggunaan sarung tangan, hingga anjuran memakai kemasan ramah lingkungan seperti besek bambu.
Prof Budi berharap peserta dapat melanjutkan proses sertifikasi kompetensi yang selama ini dilakukan UGM.
Menurut dia, sertifikasi kompetensi penting terutama jika makanan nantinya diperjualbelikan kepada masyarakat luas.
Dosen Fakultas Peternakan UGM Rio Olympias Sujarwanto mengatakan pengelolaan daging kurban yang tidak higienis dapat memicu risiko penularan penyakit.
Rio menyebut daging sangat mudah terkontaminasi jika penanganannya salah.
Ia mengatakan praktik seperti meletakkan daging di tanah atau menggunakan wadah yang tidak aman dapat meningkatkan jumlah kuman secara drastis.
- Penulis :
- Gerry Eka





