
Pantau - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera mempercepat revitalisasi fasilitas pendidikan terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat agar proses belajar mengajar tetap berjalan aman dan nyaman.
Juru Bicara Satgas PRR Amran mengatakan sektor pendidikan menjadi prioritas utama dalam pemulihan pascabencana karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan pembelajaran siswa.
Menurut Amran, fasilitas pendidikan yang terdampak bencana cukup besar sehingga proses pembangunan dan rehabilitasi terus dipercepat.
Ia mengatakan rehabilitasi dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi kerusakan di lapangan.
Sekolah dengan kategori rusak berat membutuhkan pembangunan ulang maupun relokasi sementara agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
Percepatan revitalisasi dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk kerja sama dengan TNI Angkatan Darat.
Sebanyak 2.606 sekolah direvitalisasi melalui mekanisme swakelola.
Sementara itu, 267 sekolah kategori rusak berat dan relokasi ditangani bersama TNI AD.
Berdasarkan data Satgas PRR per 8 Mei 2026, total fasilitas pendidikan terdampak di tiga provinsi mencapai 4.922 satuan pendidikan.
Seluruh sekolah terdampak dipastikan tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan capaian 100 persen.
Pembelajaran dilakukan melalui sekolah asal, kelas darurat, tenda pendidikan, maupun lokasi belajar sementara.
Hingga kini, sebanyak 3.002 sekolah telah melaksanakan Perjanjian Kerja Sama revitalisasi dengan total anggaran Rp2,86 triliun.
Dari jumlah tersebut, 2.792 sekolah telah menerima penyaluran tahap pertama dengan total dana Rp1,9 triliun.
Di Aceh, revitalisasi berjalan di 2.012 sekolah dengan total anggaran Rp1,98 triliun.
Di Sumatera Utara, revitalisasi mencakup 658 sekolah dengan anggaran Rp600,9 miliar.
Sementara di Sumatera Barat, revitalisasi dilakukan pada 332 sekolah dengan dukungan anggaran Rp281,7 miliar.
Satgas PRR memastikan percepatan rehabilitasi fasilitas pendidikan terus dilakukan agar siswa di wilayah terdampak dapat kembali belajar secara optimal.
- Penulis :
- Gerry Eka





