
Pantau - Perum Bulog terus menjaga ketersediaan pangan hingga wilayah terpencil di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, meski menghadapi keterbatasan medan, akses transportasi, dan cuaca ekstrem.
Distribusi pangan di Tanah Papua disebut bukan pekerjaan mudah karena sebagian besar wilayah belum memiliki akses darat memadai.
Pemerintah melalui Bulog berupaya menjangkau wilayah 3T atau tertinggal, terluar, dan terdepan agar kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia.
Di Pegunungan Bintang, transportasi udara menjadi satu-satunya pilihan utama untuk distribusi logistik pangan.
Pesawat perintis digunakan untuk mengangkut bahan pangan dari Jayapura menuju Oksibil yang merupakan ibu kota Pegunungan Bintang.
Cuaca buruk sering menyebabkan penerbangan tertunda atau dibatalkan sehingga distribusi bahan pangan ikut terganggu.
Sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat Oksibil masih didatangkan dari luar daerah karena akses darat belum tersedia.
Harga kebutuhan pokok di Oksibil juga jauh lebih mahal dibanding wilayah lain di Indonesia akibat tingginya biaya pengangkutan udara.
Harga beras medium di wilayah tersebut bahkan dapat mencapai Rp1 juta untuk 50 kilogram.
Bulog Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Goreng
Bulog menjalankan Program Bantuan Pangan dan distribusi beras SPHP untuk menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
Warga Oksibil bernama Antium Uopinabin mengatakan beras Bulog baru mulai masuk ke wilayah tersebut pada tahun 2025.
“Harga beras di sini sekitar Rp40 ribu sampai Rp60 ribu per kilogram tergantung jenisnya,” ujar Antium.
Bantuan pangan yang diterima masyarakat bukan hanya beras tetapi juga minyak goreng.
Warga bernama Maria Wenda mengaku baru dua kali menerima bantuan pangan dan merasa terbantu karena pengeluaran rumah tangga menjadi lebih ringan.
Maria mengatakan anak-anak di wilayahnya mulai mengenal beras selain makanan pokok berupa umbi-umbian.
Masyarakat berharap distribusi pangan dilakukan lebih rutin dan menjangkau kampung-kampung yang jauh dari Oksibil.
Bantuan pangan biasanya disalurkan melalui informasi aparat kampung atau distrik dan warga ikut membantu distribusi dengan berjalan kaki menuju kampung.
Distribusi Pangan Libatkan TNI dan Polri
Asisten I Setda Pegunungan Bintang Agus Taplo mengatakan pemerintah daerah berkomitmen membantu pengawasan distribusi bantuan agar tepat sasaran.
Kepala Dinas Pertanian Pegunungan Bintang Barnabas Pedai menyebut masyarakat sangat antusias dengan kehadiran Bulog karena langsung berkaitan dengan kebutuhan dasar mereka.
Program bantuan pangan disebut menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat di wilayah pegunungan Papua.
Petugas distribusi bahkan harus menginap selama beberapa hari di kampung dan sungai demi memastikan bantuan sampai kepada penerima manfaat.
Distribusi pangan di Pegunungan Bintang melibatkan kerja sama antara Bulog, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat setempat.
Pimpinan Bulog Papua dan Papua Barat Ahmad Mustari mengatakan distribusi pangan di daerah 3T membutuhkan mekanisme khusus dan koordinasi panjang.
Distribusi dimulai dari gudang Bulog menuju bandara di Jayapura lalu diterbangkan ke Oksibil jika kondisi cuaca memungkinkan.
Penerbangan dari Jayapura ke Oksibil memakan waktu sekitar 45 hingga 55 menit.
Setiap pengiriman hanya mampu membawa muatan sekitar lima hingga tujuh ton bahan pangan.
Distribusi bantuan juga melibatkan aparat Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menjaga keamanan penyaluran.
Biaya Distribusi Capai Puluhan Juta Rupiah
Jumlah penerima bantuan pangan di Pegunungan Bintang mencapai 18.237 keluarga yang tersebar di 34 distrik.
Untuk alokasi Februari hingga Maret 2026 total bantuan beras yang disalurkan mencapai sekitar 364 ton.
Pemerintah juga menyalurkan minyak goreng sebanyak 72.948 liter kepada masyarakat.
Setiap penerima bantuan mendapatkan 10 kilogram beras dan dua liter minyak goreng per bulan.
Bulog mencatat satu kali penerbangan distribusi pangan dengan muatan kurang dari satu ton dapat menelan biaya hingga Rp26 juta.
Meski biaya distribusi sangat tinggi, Bulog tetap menjaga pasokan pangan agar masyarakat pegunungan memperoleh kebutuhan pokok.
Bulog juga menjalankan program subsidi silang bersama pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mendukung distribusi bantuan pangan.
Selain bantuan pangan, Bulog terus mendistribusikan beras SPHP agar masyarakat yang tidak menerima bantuan tetap bisa membeli beras dengan harga lebih murah.
Artikel menegaskan bantuan pangan bagi masyarakat Oksibil bukan hanya soal kebutuhan pokok tetapi juga bentuk nyata kehadiran negara di wilayah terpencil Papua.
- Penulis :
- Gerry Eka





