HOME  ⁄  Nasional

Industri Diminta Cari Pemasok Lokal Saat Rupiah Melemah hingga Rp17.728 per Dolar AS

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Industri Diminta Cari Pemasok Lokal Saat Rupiah Melemah hingga Rp17.728 per Dolar AS
Foto: (Sumber : Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal. (ANTARA/Maria Cicilia Galuh).)

Pantau - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai industri perlu mulai mencari pemasok lokal sebagai langkah substitusi bahan baku impor untuk menghadapi dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang mencapai Rp17.728 per dolar AS pada Selasa (19/5).

Nilai tukar rupiah pada pukul 11.02 WIB tercatat melemah 60 poin atau 0,34 persen dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS.

Faisal mengatakan industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, seperti sektor kimia dan farmasi, berpotensi menghadapi lonjakan biaya produksi akibat pelemahan mata uang domestik.

“Apa yang harus dilakukan pelaku industri untuk memitigasi dampak? Tentu saja biasanya jadi kalau nilai tukar terus berkurang, (industri) mencari alternatif pasokan dari dalam negeri yang tidak terlalu banyak terdampak karena pelemahan nilai tukar, dan juga melakukan diversifikasi dari rantai pasok,” kata Faisal di Jakarta, Selasa.

Pelemahan Rupiah Tekan Biaya Produksi Industri

Faisal menjelaskan kenaikan biaya produksi tidak hanya dipicu oleh pelemahan rupiah, tetapi juga dipengaruhi gangguan rantai pasok global, inflasi bahan baku dari negara asal impor, serta kenaikan biaya distribusi akibat fluktuasi harga minyak dunia.

“Jadi artinya ada peningkatan beban biaya produksi yang lebih besar. Walaupun tidak seragam antara semua pelaku usaha pelaku industri, tapi tentu saja (peningkatannya) tetap besar,” ujarnya.

Menurut Faisal, kondisi tersebut membuat pelaku industri harus melakukan efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya operasional.

Ia menyebut langkah efisiensi yang diambil perusahaan berpotensi berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja jika penjualan turut mengalami penurunan.

“Maka kita tahu bahwa dari tekanannya juga ada di sisi hilir, di sisi market. Jadi kalau penjualan itu turun dimana itu turun otomatis mengurangi jumlah tenaga kerja. Jadi memang ada potensi pemutusan hubungan kerja atau PHK,” kata Faisal.

CORE Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Fiskal

Selain langkah mitigasi dari industri, Faisal meminta pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi untuk menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Ia menilai faktor domestik turut memengaruhi pelemahan rupiah sehingga pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.

“Menurut saya salah satu faktor dari pelemahan nilai tukar bukan hanya dari faktor global tapi juga faktor domestik. Stabilitas makroekonomi termasuk masalah fiskal itu yang harus dijaga oleh pemerintah, termasuk disiplin fiskal yang juga menjadi sorotan,“ ujar Faisal.

“Selain itu, termasuk governance dalam hal pelaksanaan program-program prioritas untuk meningkatkan atau menjaga kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia, dan juga kredibilitas daripada kebijakan pemerintah,” katanya menambahkan.

Penulis :
Aditya Yohan