HOME  ⁄  Nasional

Kepala BRIN Tegaskan Kebijaksanaan Peneliti Tak Akan Bisa Digantikan AI

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kepala BRIN Tegaskan Kebijaksanaan Peneliti Tak Akan Bisa Digantikan AI
Foto: (Sumber : Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria. ANTARA/HO-BRIN..)

Pantau - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan kekuatan hati dan kebijaksanaan seorang peneliti tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Dalam kegiatan pengukuhan profesor riset di Jakarta, Kamis, Arif mengingatkan perkembangan AI yang semakin dominan tidak boleh memicu dehumanisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan riset.

“Di kala sekarang AI sudah menjadi dominan, di kala sekarang ini AI itu menjadi sesuatu yang keniscayaan, maka AI sudah bisa menggantikan banyak hal, dalam hal yang berkaitan dengan soal kemampuan teknis kita berpikir, kemampuan teknis kita meriset dan sebagainya. Tapi kekuatan wisdom, itulah kekuatan hati. Soal hati ini tidak bisa digantikan oleh AI,” ujar Arif Satria.

Ia mengatakan para profesor riset dan peneliti senior diharapkan mampu menjadi teladan bagi generasi peneliti muda dengan mengedepankan keseimbangan antara nalar, logika, nilai, dan hati nurani.

BRIN Dorong Riset Berdampak bagi Perubahan Sosial

Arif menegaskan ilmu pengetahuan dan riset harus membawa perubahan positif bagi masyarakat, bukan sekadar menghasilkan kajian akademik tanpa dampak nyata.

“Apa artinya ilmu hanya untuk ilmu? Apa artinya riset hanya untuk riset? Tentu, kita dilahirkan di muka bumi ini adalah dalam rangka untuk mempercepat proses perubahan ke arah yang lebih baik,” katanya.

Menurut dia, manusia dibekali akal dan hati untuk menciptakan kemajuan sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi.

“Mandat kita sebagai manusia karena kita yang hadir di muka bumi untuk membawa perubahan, untuk membawa kemajuan. Kita dibekali oleh Tuhan berupa otak, berupa akal, dan berupa hati,” ungkapnya.

Arif Satria Minta Peneliti Percaya Diri Angkat Perspektif Lokal

Kepala BRIN juga menyoroti dominasi perspektif asing dalam penelitian ilmu sosial terkait Indonesia.

Ia menilai selama ini banyak realitas sosial dan kekayaan budaya Indonesia dipotret menggunakan sudut pandang luar negeri.

Karena itu, Arif mendorong peneliti dalam negeri lebih percaya diri menggunakan perspektif lokal dalam mengembangkan ilmu pengetahuan global.

“Nah, itulah yang menurut saya yang diperlukan hari ini adalah bagaimana kita terus confidence. Confidence dengan cara pandang kita, dengan kekayaan kita, kekayaan nilai budaya kita, dan kekayaan realitas yang ada di Indonesia,” tuturnya.

Arif optimistis Indonesia mampu bertransformasi dari konsumen menjadi produsen ilmu pengetahuan yang diperhitungkan di tingkat dunia.

Penulis :
Ahmad Yusuf