
Pantau - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menggelar Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan di Lapangan Garuda, Candi Prambanan, Sabtu, 23 Mei 2026, dalam rangkaian peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta guna memperkuat kesiapsiagaan dan ketangguhan menghadapi bencana.
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menyampaikan peringatan tersebut bertujuan memperkuat memori kolektif masyarakat terhadap bencana gempa besar yang pernah melanda Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
“Peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, tetapi menjadi momentum penting untuk memperkuat memori kolektif bangsa mengenai pentingnya kesiapsiagaan dan ketangguhan dalam menghadapi bencana,” ungkap Lilik.
Sinergi Pentahelix dalam Penanggulangan Bencana
Lilik menjelaskan apel kesiapsiagaan dan gelar peralatan menjadi wujud sinergi seluruh unsur pentahelix dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana.
Unsur pentahelix tersebut melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, dan warga.
Kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi lintas sektor agar mitigasi dan penanganan bencana dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
Gerakan KitaTangguh Diperkuat
Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, mengatakan apel kesiapsiagaan dan gelar peralatan merupakan implementasi gerakan “KitaTangguh”.
Andre menjelaskan gerakan “KitaTangguh” memiliki tiga pilar utama, yakni Budaya Tangguh, Kolaborasi Tangguh, dan Dasbor Tangguh.
Budaya Tangguh difokuskan untuk menanamkan kesadaran bahwa pemahaman terhadap risiko bencana harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Kolaborasi Tangguh diarahkan untuk memperkuat kerja sama lintas sektor dalam mitigasi serta penanggulangan bencana.
Sementara itu, Dasbor Tangguh mencakup pemanfaatan data dan teknologi untuk mendukung mitigasi dan penanganan bencana secara lebih cepat dan presisi.
“Kita membutuhkan data dan teknologi untuk memantau, menganalisis, dan merespons risiko secara lebih presisi dan cepat,” ujar Andre.
Ia menambahkan, “Sistem terintegrasi ini bukan hanya alat pemantau, tetapi juga penggerak edukasi dan tindakan kolektif, sehingga ketangguhan dapat dibangun secara menyeluruh dari pusat hingga daerah.”
Andre menegaskan peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta menjadi bagian dari upaya memperkuat memori masyarakat terhadap bencana sebagai pelajaran berharga untuk masa depan.
“Pada intinya ketangguhan bencana sebagai budaya bersama untuk mewujudkan kekuatan kolektif bangsa harus diperkuat. Ke depan Indonesia tidak hanya mampu menghadapi bencana, tetapi mampu bangkit dan pulih lebih cepat,” katanya.
Andre juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, ketersediaan peralatan, serta sistem peringatan dini yang lebih responsif dan adaptif dalam penanggulangan bencana.
Selain itu, mitigasi dan penanggulangan bencana dinilai membutuhkan sinergi lintas sektor serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan terkait.
- Penulis :
- Arian Mesa





