
Pantau - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menelusuri jejak kain tenun Pesujudan untuk mengungkap sejarah serta fungsi wastra tradisional itu dalam kebudayaan masyarakat Islam di Pulau Lombok.
Museum NTB Perkuat Kajian Sejarah Kain Pesujudan
Kepala Seksi Pengkajian dan Perawatan Koleksi Museum NTB Aulia Rahman Adiputra mengatakan kajian dilakukan guna memperkuat informasi koleksi yang tersimpan di museum.
“Kajian itu kami lakukan untuk memperkuat informasi koleksi yang tersimpan di museum,” ujar Aulia di Mataram, Senin.
Penelusuran dilakukan setelah kolektor barang antik asal Australia Selatan, Michael Abbot, menyerahkan satu lembar Kain Pesujudan kepada Museum NTB pada November 2025.
Museum NTB kini memiliki 12 koleksi Kain Pesujudan sebagai bagian dari upaya pelestarian wastra tradisional daerah.
Aulia mengatakan tim museum mendatangi sejumlah wilayah berdasarkan data asal koleksi kain tersebut.
“Kami menentukan lokasi berdasarkan asal perolehan koleksi kain Pesujudan. Kami mendatangi wilayah-wilayah yang dalam data koleksi disebut sebagai asal benda tersebut,” ungkapnya.
Digunakan untuk Ritual Keagamaan dan Adat
Dari hasil penelusuran, tim museum menemukan tiga wilayah yang masih menyimpan ingatan tentang Kain Pesujudan, yakni Pujut di Lombok Tengah, Bayan di Lombok Utara, dan Sembalun di Lombok Timur.
Ketua Tim Pengkajian Museum NTB Bunyamin menjelaskan Kain Pesujudan di Bayan dan Sembalun dikenal dengan nama Kain Musela atau Musla.
Kain tersebut digunakan oleh kyai dan penghulu saat menjalankan ibadah shalat maupun ritual adat.
Selain itu, masyarakat juga memakai kain tersebut dalam prosesi akad nikah dan sebagai pembungkus kitab khutbah.
“Berdasarkan penelusuran asal usul sejarah, Kain Pesujudan dibawa oleh para penyebar agama Islam dari Pulau Jawa ke wilayah Lombok,” kata Bunyamin.
Kain Pesujudan memiliki motif bernuansa religius seperti gambar orang shalat, masjid, perahu, hingga motif lalang ketupat yang berkaitan dengan syiar Islam.
Museum NTB mencatat penggunaan Kain Pesujudan terakhir terjadi pada 1980-an di Sembalun, sedangkan tradisi menenunnya terakhir dilakukan pada 2010 di Bayan.
- Penulis :
- Aditya Yohan





