HOME  ⁄  Nasional

Musyrif Dini Haji 2026 Ajak Jamaah Maksimalkan Ibadah saat Wukuf di Arafah

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Musyrif Dini Haji 2026 Ajak Jamaah Maksimalkan Ibadah saat Wukuf di Arafah
Foto: Jamaah haji Indonesia memadati area mabit di Muzdalifah, Makkah, Arab Saudi, Jumat 6/6/2025 (sumber: ANTARA FOTO/Andika Wahyu)

Pantau - Musyrif Dini Haji 2026 Asrorun Niam Sholeh mengajak jamaah haji mempersiapkan diri secara optimal menghadapi puncak ibadah haji, yakni wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah dengan memperbanyak doa, zikir, dan membaca Al Quran.

Jamaah Diminta Fokus Beribadah saat Wukuf

Asrorun Niam menegaskan bahwa Hari Arafah merupakan momentum paling mustajab bagi jamaah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampunan.

“Hari Arafah adalah hari yang mustajab di tempat yang mustajab. Sebaik-baik doa adalah doa di Hari Arafah. Gunakan waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampun atas kesalahan, baik kepada Allah maupun kepada sesama,” ungkapnya.

Pada 8 Zulhijah, jamaah mulai bergerak secara bertahap menuju Arafah dengan pengaturan dari Kementerian Haji dan Umrah RI agar seluruh jamaah tiba tepat waktu tanpa ada yang tertinggal.

Asrorun Niam menegaskan bahwa wukuf di Arafah merupakan rukun utama ibadah haji sehingga kehadiran fisik jamaah di lokasi tersebut menjadi syarat sah pelaksanaan haji.

Ia meminta jamaah menyiapkan kondisi fisik dan mental secara matang sebelum menjalani rangkaian puncak ibadah haji.

Setelah menjalani wukuf di Arafah, jamaah akan melanjutkan ibadah menuju Muzdalifah untuk mabit sebelum bergerak ke Mina guna melaksanakan lempar jumrah Aqabah dan mabit selama dua atau tiga hari.

Jamaah selanjutnya melakukan lontar jumrah ula, wustha, dan aqabah selama hari tasyrik sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Skema Pergerakan Jamaah Dibagi Tiga Kelompok

Asrorun Niam mengapresiasi perbaikan skema pergerakan jamaah haji pasca Arafah yang dinilai sesuai prinsip syariah dan mempertimbangkan aspek keselamatan jamaah.

Menurutnya, pengaturan tersebut sejalan dengan prinsip menjaga agama atau hifzhud din serta menjaga jiwa atau hifzhun nafs.

Skema pertama mengatur jamaah berangkat dari Arafah pukul 19.00 WAS menuju Muzdalifah untuk turun dan mabit hingga tengah malam sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina menggunakan bus.

Skema kedua mengatur jamaah berangkat dari Arafah pukul 23.00 WAS dan tiba di Muzdalifah setelah tengah malam sehingga mabit dilakukan di atas bus sebelum menuju Mina.

Sementara jamaah yang memiliki uzur syari seperti sakit langsung diberangkatkan dari Arafah menuju Mina.

“Ketiga, jamaah yang ada udzur syari, seperti kondisi sakit, bergerak dari Arafah langsung ke Mina. Pengaturan ini sejalan dengan prinsip kemaslahatan yang tetap berada dalam koridor ketentuan syariah,” ujar Asrorun Niam.

Guru Besar Bidang Fikih tersebut juga mengingatkan jamaah terkait waktu pelemparan jumrah pada hari tasyrik yang dimulai setelah shalat Subuh.

Ia menjelaskan bahwa waktu paling afdal untuk melempar jumrah memang setelah matahari tergelincir atau waktu Zuhur, tetapi kondisi saat itu biasanya sangat padat dan panas.

“Meski waktu afdal adalah setelah tergelincir matahari (zuhur), itu adalah waktu yang sangat padat dan panas. Karena itu, lebih baik mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh maktab dan syarikah demi keselamatan dan kenyamanan jamaah,” katanya.

Asrorun Niam mengimbau jamaah tidak memaksakan diri mengejar keutamaan waktu apabila kondisi fisik tidak memungkinkan.

“Kepatuhan pada jadwal dan pengaturan yang telah ditetapkan adalah bagian dari menjaga keselamatan jamaah sekaligus tetap dalam koridor syariat,” tegasnya.

Penulis :
Arian Mesa