
Pantau - Sri Sultan Hamengku Buwono X menyambut kedatangan rombongan biksu dari tiga negara peserta Indonesia Walk For Peace 2026 di Bangsal Kepatihan Yogyakarta sebagai bagian dari kegiatan jalan kaki lintas pulau yang diikuti para biksu dari berbagai negara.
Sri Sultan mengatakan, "Adalah suatu kehormatan, bahwasanya pada hari ini, Pemerintah Daerah DIY mendapat kehormatan menyambut serta menerima rombongan bhikku peserta Indonesia Walk for Peace."
Menurut Sri Sultan, kehadiran rombongan tersebut menjadi momen bermakna bagi Pemerintah Daerah DIY karena dapat bertatap muka langsung dengan para peserta perjalanan damai.
Dalam kesempatan itu, Sri Sultan juga memperkenalkan kearifan lokal dan warisan budaya Yogyakarta yang diwariskan lintas generasi kepada para peserta.
Indonesia Walk For Peace Jadi Simbol Harmoni
Sri Sultan mengatakan, "Indonesia Walk for Peace mencerminkan retrospeksi atau sebuah refleksi perjalanan kehidupan. Ia adalah 'niti-laku', menengok jejak perjalanan sejarah dari masa ke masa, dan merevitalisasinya agar bermakna untuk masa kini dan masa yang akan datang".
Menurutnya, Indonesia Walk For Peace bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi simbol langkah menuju masa depan bangsa yang harmonis dan bermartabat.
Kegiatan tersebut juga dinilai menjadi sarana penyebaran energi positif dan harmoni antarumat beragama.
Sri Sultan mengatakan, "Perjalanan ini juga mewujudkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Mempertegas bahwa keberagaman suku, agama, dan budaya adalah kekayaan yang menyatukan, bukan memisahkan bangsa".
Diikuti 57 Biksu dari Tiga Negara
Ketua Panitia Pusat IWFP 2026 Tosin mengatakan kegiatan jalan damai lintas pulau itu diikuti 57 biksu.
Sebanyak 43 biksu berasal dari Thailand, empat orang dari Malaysia, dan tiga orang dari Laos.
Selain itu, terdapat tujuh peserta pendamping dari Indonesia yang turut mendukung perjalanan spiritual tersebut.
Rombongan dipimpin oleh Phanarin Anando yang berusia 31 tahun dengan peserta tertua berusia 67 tahun dan peserta termuda berusia 23 tahun.
Sebelum tiba di Yogyakarta, para biksu berjalan kaki sejauh 30 hingga 40 kilometer setiap hari sejak memulai perjalanan dari Bali pada 9 April 2026.
Mereka menghabiskan waktu sekitar delapan hingga sepuluh jam per hari berjalan di tengah cuaca panas Pulau Jawa yang mencapai 34 hingga 36 derajat Celsius.
Tosin mengatakan para biksu tetap melanjutkan perjalanan meskipun mengalami cedera pada kaki.
Tosin mengatakan, "Kalau saya amati di kakinya itu bisa ada tiga sampai lima jahitan, ini sangat luar biasa. Walaupun terluka dijahit, biasa kan orang istirahat, ini tidak, besok tetap jalan melakukan perjuangan yang tanpa henti".
Ia juga menyoroti kesederhanaan para biksu yang memilih tidak merepotkan panitia selama perjalanan.
Para biksu disebut menolak fasilitas mewah dan memilih tinggal di tempat sederhana seperti lapangan terbuka, gedung pertemuan, dan wihara.
Tosin mengatakan, "Bhikkhu-bhikkhu ini sangat sederhana, mereka tidak tinggal di hotel meskipun panitia ingin memberikan yang terbaik. Mereka tidur di lapangan terbuka, gedung-gedung pertemuan, wihara, walaupun fasilitas apa adanya mereka tidak ada masalah dan sangat mudah dilayani".
- Penulis :
- Leon Weldrick





