HOME  ⁄  Nasional

Warga Gaza Jalani Idul Adha Tanpa Kurban Akibat Perang dan Krisis Kemanusiaan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Warga Gaza Jalani Idul Adha Tanpa Kurban Akibat Perang dan Krisis Kemanusiaan
Foto: (Sumber : Warga Palestina mengunjungi sebuah pasar menjelang Hari Raya Idul Adha di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 15 Juni 2024. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad.)

Pantau - Warga Palestina di Jalur Gaza kembali merayakan Idul Adha tanpa tradisi penyembelihan hewan kurban akibat perang berkepanjangan, kelangkaan ternak, dan krisis ekonomi yang semakin memburuk.

Bagi Ahmed Nashwan, warga Gaza, Idul Adha yang dahulu identik dengan kebersamaan keluarga kini berubah menjadi momen penuh kesedihan.

“Sebelum perang, Idul Adha merupakan momen penuh kebahagiaan bagi kami,” kata Nashwan kepada Xinhua.

Ia mengatakan keluarganya biasanya berkumpul untuk memilih hewan kurban dan membagikan daging kepada kerabat serta warga miskin.

“Kini, hari raya itu bagi kami hanya tinggal doa dan kenangan,” ungkapnya.

Harga Hewan Kurban Melonjak Tajam

Meski gencatan senjata tercapai antara Hamas dan Israel pada Oktober 2025, pembatasan ketat terhadap arus barang ke Gaza masih berlangsung sehingga pasokan ternak sangat terbatas.

Direktur Kamar Dagang Gaza Maher al-Tabbaa menyebut harga hewan kurban melonjak drastis dibanding sebelum perang.

Menurutnya, harga seekor hewan kurban yang sebelumnya sekitar 500 dolar AS kini mencapai 6.000 hingga 7.000 dolar AS.

Mohammed al-Hissi, warga Gaza City, mengaku keluarganya kini tidak lagi mampu membeli hewan kurban akibat kondisi ekonomi yang memburuk.

“Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami,” katanya.

“Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza,” lanjutnya.

Ternak Langka dan Peternakan Hancur

Pedagang ternak Salah Afana mengatakan banyak hewan mati akibat serangan udara, kekurangan pakan, dan runtuhnya layanan veteriner selama perang berlangsung.

“Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan,” ujarnya.

Juru bicara Kementerian Pertanian Gaza Raafat Asaliya mengungkapkan sebelum perang Gaza biasa mengimpor puluhan ribu sapi dan domba menjelang Idul Adha.

“Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total,” kata Asaliya.

Ia menambahkan banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan hancur selama perang.

Maher al-Tabbaa menyebut warga Gaza telah kehilangan akses terhadap hewan kurban selama tiga tahun berturut-turut.

“Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza,” pungkasnya.

Penulis :
Aditya Yohan