HOME  ⁄  Nasional

Penguatan Backbone Kelistrikan Sumatera Dinilai Jadi Fondasi Ketahanan Listrik Nasional

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Penguatan Backbone Kelistrikan Sumatera Dinilai Jadi Fondasi Ketahanan Listrik Nasional
Foto: Petugas PLN UID Riau dan Kepri melakukan inspeksi dan pengecekan jaringan kelistrikan di Masjid Raya An- Nur Pekanbaru guna memastikan keandalan pasokan listrik tetap terjaga selama periode siaga Hari Raya Idul Adha 1447 H (sumber: PLN Riau)

Pantau - Lembaga riset Pusat Studi Kebijakan Publik menyatakan pengembangan backbone kelistrikan Sumatera menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sistem listrik nasional melalui penguatan jaringan transmisi dan modernisasi sistem ketenagalistrikan.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria mengatakan penguatan backbone dilakukan melalui pembangunan jaringan transmisi 500 kilovolt (kV), 275 kV, serta pengembangan jaringan 150 kV.

Ia mengungkapkan pengembangan tersebut telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

“Penguatan backbone Sumatera akan menjadi fondasi penting untuk menciptakan sistem kelistrikan yang lebih terintegrasi dari Aceh hingga Lampung,” ungkap Sofyano Zakaria.

Penguatan Sistem dan Modernisasi Infrastruktur

Selain penguatan jaringan transmisi, Sofyano menilai langkah lain yang perlu dilakukan meliputi pengembangan pembangkit fast response, modernisasi sistem proteksi, serta pemeliharaan berbasis digital dan prediktif.

Menurutnya, penguatan sistem menjadi kebutuhan penting untuk menjaga stabilitas pasokan listrik dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatera.

Sofyano mengatakan fenomena blackout atau pemadaman listrik di Sumatera perlu dipandang secara proporsional karena gangguan serupa juga pernah terjadi di sejumlah negara maju.

Ia mencontohkan blackout di Australia Selatan pada 2016 yang dipicu cuaca ekstrem sehingga menyebabkan gangguan beruntun pada jaringan transmisi.

Inggris juga disebut pernah mengalami gangguan sistem kelistrikan pada 2019 yang menyebabkan pemadaman luas dan mengganggu transportasi publik.

Selain itu, Spanyol dan Portugal juga pernah mengalami gangguan kelistrikan berskala besar yang membutuhkan proses penormalan sistem secara bertahap.

Penormalan Sistem Harus Dilakukan Bertahap

Sofyano menjelaskan dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatera, gangguan jaringan transmisi akibat cuaca ekstrem dapat berdampak luas terhadap kestabilan pasokan listrik.

Karena itu, proses pengamanan dan penormalan sistem harus dilakukan secara hati-hati dan terkoordinasi.

“Hal terpenting adalah proses penanganan dan penormalan sistem dilakukan secara terkoordinasi agar sistem kembali stabil,” tegas Sofyano Zakaria.

Ia mengatakan dalam sistem interkoneksi besar, pengembalian sistem kelistrikan tidak dapat dilakukan secara instan.

Operator, lanjutnya, harus memastikan frekuensi listrik aman, tegangan listrik stabil, serta pasokan listrik berada dalam kondisi aman sebelum seluruh jaringan dinormalkan sepenuhnya.

Sofyano menilai fokus utama pemerintah dan pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan saat ini sebaiknya diarahkan pada percepatan penguatan sistem kelistrikan nasional.

Langkah tersebut dinilai penting agar kejadian blackout serupa dapat diminimalkan pada masa mendatang.

Penulis :
Leon Weldrick
Editor :
Leon Weldrick