
Pantau - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menegaskan pentingnya kemampuan mendeteksi dini kesehatan mental anak bagi orang tua, keluarga terdekat, guru, dan masyarakat guna mencegah gangguan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Titi Eko Rahayu, menyampaikan bahwa berbagai gangguan kesehatan mental pada anak sering muncul melalui perubahan perilaku sehari-hari yang perlu dikenali sejak awal.
Ia mengungkapkan, "Gangguan mental pada anak sering kali muncul melalui perubahan perilaku sehari-hari, seperti penurunan motivasi belajar, perubahan emosi, menarik diri dari lingkungan sosial, sulit berkonsentrasi, hingga tekanan psikologis akibat kekerasan, perundungan, tekanan akademik, maupun persoalan pengasuhan. Kondisi ini harus diketahui orang tua, keluarga terdekat, guru, dan masyarakat."
Tanda-Tanda Gangguan Mental Perlu Diwaspadai
KemenPPPA menyebut penurunan motivasi belajar menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan oleh keluarga dan sekolah.
Perubahan emosi yang signifikan juga dapat menjadi indikator adanya gangguan kesehatan mental pada anak.
Anak yang mulai menarik diri dari lingkungan sosial dinilai membutuhkan perhatian lebih dari orang-orang terdekatnya.
Kesulitan berkonsentrasi dalam kegiatan belajar maupun aktivitas sehari-hari juga menjadi gejala yang perlu diwaspadai.
Menurut KemenPPPA, tekanan psikologis akibat kekerasan, perundungan, tekanan akademik yang berlebihan, serta persoalan pengasuhan dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental anak dan remaja.
Deteksi Dini dan Pendampingan Harus Dilakukan Sejak Awal
KemenPPPA menilai deteksi dini sangat penting karena gejala gangguan psikosis sering kali terlambat dikenali.
Banyak gejala awal yang kerap disalahartikan sebagai perubahan emosi yang normal pada masa remaja.
Keterlambatan penanganan berisiko menyebabkan kondisi kesehatan mental anak semakin memburuk.
Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Salah satu gangguan kesehatan mental yang tercatat dalam survei tersebut adalah skizofrenia.
KemenPPPA mendorong keluarga dan sekolah untuk lebih aktif mengamati perubahan perilaku anak secara cepat dan tepat.
Deteksi dini dapat dilakukan dengan mengenali perubahan perilaku yang drastis sejak awal.
Orang tua dan guru juga perlu membangun komunikasi yang aman, suportif, dan tidak menghakimi agar anak merasa nyaman menyampaikan perasaannya.
Lingkungan terdekat diharapkan memperhatikan kondisi emosional anak dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan pendampingan awal ketika ditemukan tanda-tanda gangguan kesehatan mental.
Jika diperlukan, anak harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan kesehatan mental.
Titi menegaskan, "Kita tidak boleh menunggu sampai anak berada dalam situasi krisis. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang mampu mengenali tanda-tanda awal, menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita, dan memastikan adanya respons yang cepat, tepat, serta berpihak pada kepentingan terbaik anak."
KemenPPPA menekankan bahwa pencegahan dan deteksi dini merupakan langkah penting dalam melindungi kesehatan mental anak.
Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dinilai sangat menentukan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
- Penulis :
- Arian Mesa





