HOME  ⁄  Nasional

Tradisi Lawa Pipi di Negeri Hila Maluku Jadi Miniatur Ibadah Haji yang Terus Dijaga Warga

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Tradisi Lawa Pipi di Negeri Hila Maluku Jadi Miniatur Ibadah Haji yang Terus Dijaga Warga
Foto: (Sumber : Pemuda warga Negeri Hila, Maluku Tengah, berarak-arakan sambil memikul kambing temal dalam tradisi Lawa Pipi Idul Adha 2026. ANTARA/Winda Herman.)

Pantau - Tradisi Lawa Pipi atau "Bawa Lari Kambing" kembali digelar masyarakat Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, pada perayaan Idul Adha 2026 sebagai simbol miniatur pelaksanaan ibadah haji yang diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.

Ribuan warga memadati kawasan Negeri Hila untuk menyaksikan prosesi adat yang memadukan nilai keagamaan, budaya, dan kebersamaan masyarakat dalam rangkaian perayaan Hari Raya Idul Adha.

Tradisi diawali dengan tahlilan di beranda Rumah Tua Ollong yang dihadiri tokoh agama, tokoh adat, kasisi masjid, serta masyarakat untuk mendoakan leluhur dan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan.

Simbol Rukun Haji dalam Prosesi Adat

Usai tahlilan, seekor kambing pilihan yang disebut Kambing Temal dikeluarkan untuk menjadi bagian utama dalam prosesi Lawa Pipi.

Kambing Temal yang merupakan kambing terbesar dan paling sehat dimaknai sebagai simbol pengganti Nabi Ismail AS dalam kisah kurban.

Para pemuda kemudian mengangkat kambing tersebut ke pundak mereka dan mengaraknya mengelilingi kampung dengan langkah cepat menyerupai lari kecil.

Prosesi tersebut melambangkan Sa’i, yaitu salah satu rukun haji yang dilakukan jamaah di Tanah Suci.

Setelah berkeliling kampung, rombongan bergerak menuju Masjid Hasan Soleman Hila untuk melanjutkan rangkaian ritual.

Kambing Temal kemudian diarak mengelilingi masjid sebanyak tujuh kali putaran yang menjadi simbol thawaf mengelilingi Ka'bah.

Pada putaran terakhir, imam bersama penghulu masjid menyembelih Kambing Temal di area belakang masjid yang telah disiapkan.

Saat penyembelihan berlangsung, warga melemparkan uang logam dan uang kertas ke arah kambing sebagai simbol lempar jumrah sekaligus doa keselamatan dan penolak bala.

Warisan Leluhur yang Terus Dilestarikan

Salah satu pengurus Masjid Hasan Soleman Hila, Abubakar Tatisina, mengatakan seluruh rangkaian tradisi tersebut merupakan representasi dari rukun-rukun haji yang dilakukan di Mekkah.

“Leluhur kita melihat setiap rukun haji yang dikerjakan di Mekkah, lalu dibuat dalam bentuk miniatur di tradisi Lawa Pipi ini,” ungkapnya.

Abubakar menjelaskan tradisi tersebut juga menjadi sarana pendidikan spiritual bagi generasi muda.

“Lewat Lawa Pipi ini, generasi muda diajarkan mengenal rukun ibadah haji yang dilakukan di Tanah Suci,” ujarnya.

Ketua Panitia Festival Budaya Lawa Pipi, Kasim Assawala, menilai tingginya keterlibatan generasi muda menunjukkan tradisi tersebut masih hidup dan dicintai masyarakat.

“Lawa Pipi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang harus dijaga,” katanya.

Selain prosesi adat dan penyembelihan kurban, Festival Budaya Lawa Pipi juga dimeriahkan berbagai atraksi seni tradisional seperti hadrat, samra, dan lomba pidato bahasa daerah.

Pada perayaan Idul Adha 2026, masyarakat Negeri Hila menyembelih 35 ekor kambing dan sembilan ekor sapi kurban.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Ahmad Yusuf