
Pantau - Masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam beberapa hari terakhir merasakan suhu udara yang lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari, akibat pengaruh angin monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah selatan khatulistiwa.
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Satria Topan Primadi, menjelaskan kondisi tersebut merupakan bagian dari karakteristik musim kemarau yang lazim terjadi setiap tahun di NTB.
"Pergerakan angin di wilayah NTB sudah memasuki monsun Australia yang membawa massa udara bersifat kering, sehingga mendukung kondisi cuaca tersebut," ungkap Satria Topan Primadi.
Monsun Australia bertiup dari timur ke barat, berasal dari Benua Australia yang bertekanan tinggi menuju Benua Asia yang bertekanan rendah.
Fenomena ini umumnya mulai aktif dan menguat pada Juni hingga September serta menjadi salah satu penanda masuknya musim kemarau di wilayah Indonesia bagian selatan.
Monsun Australia Bawa Udara Kering
BMKG menjelaskan monsun Australia membawa udara yang kering dan minim kandungan uap air sehingga mengurangi pembentukan awan serta menurunkan curah hujan secara signifikan.
Berdasarkan citra satelit Himawari-9 pada 30 Mei 2026, suhu udara rata-rata di NTB tercatat mencapai 21 derajat Celcius.
Suhu di kawasan kaki Gunung Rinjani dan Gunung Tambora mencapai sekitar 14 derajat Celcius.
Sementara itu, suhu di kawasan puncak Gunung Rinjani dan Gunung Tambora tercatat sekitar 8 derajat Celcius.
Untuk 31 Mei 2026, suhu udara di NTB diprakirakan berkisar antara 18 hingga 32 derajat Celcius.
Minim Awan Percepat Penurunan Suhu
Selain dipengaruhi monsun Australia, suhu dingin juga dipicu minimnya tutupan awan pada siang dan sore hari.
Kondisi tersebut menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu udara turun lebih drastis menjelang dini hari dan pagi hari.
"Pada malam hari, panas yang diserap bumi saat siang lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer dengan sangat cepat atau radiasi balik tanpa ada penghalang awan," kata Satria Topan Primadi.
BMKG juga menyebut kelembapan udara yang lebih rendah turut mempercepat penurunan suhu karena panas tidak bertahan lama setelah matahari terbenam.
Akibatnya, udara dingin dari lapisan atmosfer atas lebih mudah turun ke permukaan.
BMKG menegaskan kondisi udara dingin tersebut merupakan karakteristik normal musim kemarau dan bukan fenomena yang tidak biasa.
Berdasarkan prakiraan kondisi atmosfer pada 31 Mei hingga 1 Juni 2026, kelembapan udara di NTB berkisar antara 50 hingga 98 persen dengan angin bertiup dari timur hingga selatan dan kecepatan maksimum mencapai 20 kilometer per jam.
- Penulis :
- Gerry Eka





