HOME  ⁄  Nasional

Pemerintah Siapkan Kebijakan Deteksi Dini Penyakit Hati di Puskesmas Lewat Pelatihan Dokter Umum

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pemerintah Siapkan Kebijakan Deteksi Dini Penyakit Hati di Puskesmas Lewat Pelatihan Dokter Umum
Foto: (Sumber : Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Selasa (2/6/2026). ANTARA/Mecca Yumna..)

Pantau - Pemerintah akan mengeluarkan kebijakan untuk mendukung deteksi dini penyakit hati di tingkat puskesmas melalui pelatihan dokter umum agar berbagai gangguan seperti pembesaran hati dan fatty liver dapat ditemukan lebih cepat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kebijakan tersebut bertujuan memperkuat upaya pencegahan dan penanganan penyakit hati sejak tahap awal.

"Di Indonesia datanya ada, cuma datanya kalau lihat sumber-sumbernya beda-beda juga dan nyatet-nya juga biasalah, Indonesia kita masih harus lebih rapi mencatat datanya. Tapi data yang saya pegang ada sekitar 70 jutaan yang terkena penyakit hati kronis ini," kata Budi di Jakarta, Selasa (2/6).

Menurut Budi, secara global lebih dari 300 juta orang mengalami penyakit hati kronis dan sekitar 2 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit tersebut.

Penyakit Hati Berisiko Berkembang Menjadi Kanker

Budi menjelaskan penyakit hati dapat berkembang menjadi fibrosis, sirosis, hingga karsinoma yang berujung pada kanker hati.

Kondisi tersebut dapat dipicu oleh infeksi virus hepatitis B dan hepatitis C, konsumsi alkohol, obesitas, serta asupan gula berlebih.

Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Kesehatan akan menerapkan kebijakan Nutri-level atau pelabelan gizi pada 2026 untuk mengurangi risiko penyakit akibat konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan.

Sebelumnya, pemerintah juga telah menjalankan imunisasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan sejak 2023.

Kementerian Kesehatan turut memberikan profilaksis Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF) bagi ibu hamil untuk mencegah penularan Hepatitis B dan HIV.

Selain itu, indikator Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) telah dimasukkan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Teknologi AI Akan Dukung Skrining di Puskesmas

Budi menegaskan bahwa pendekatan promotif dan preventif lebih penting dibandingkan pengobatan karena lebih efisien dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Promotif preventif jauh lebih penting daripada kuratif, karena itu lebih murah dan kualitas hidup lebih baik buat masyarakatnya. Jadi yang kita kejar, ada nggak promotif preventifnya yang bisa dilakukan dulu," ujarnya.

Untuk mendukung deteksi dini, Kementerian Kesehatan telah mendistribusikan alat ultrasonografi (USG) ke berbagai puskesmas di Indonesia.

Menurut Budi, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga dapat membantu dokter umum melakukan skrining penyakit hati secara lebih cepat dan akurat.

"Saya rasa itu adalah advancement teknologi yang harus berani kita lakukan, dan pemerintah akan keluarkan kebijakan untuk mendukungnya. Sehingga nanti bisa dilakukan di puskesmas, dan treatment-nya bisa lebih cepat," ungkapnya.

Dengan sistem deteksi dini yang lebih kuat, rumah sakit diharapkan dapat lebih fokus menangani kasus penyakit hati yang kompleks dan membutuhkan perawatan lanjutan.

Penulis :
Aditya Yohan