HOME  ⁄  Lifestyle

Penelitian Ungkap WFH Tingkatkan Tekanan Psikologis pada Pekerja yang Tinggal Sendiri

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Penelitian Ungkap WFH Tingkatkan Tekanan Psikologis pada Pekerja yang Tinggal Sendiri
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Seorang pegawai yang bekerja secara remote di sebuah cafe. ANTARA/Pamela Sakina/am..)

Pantau - Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science mengungkap kerja jarak jauh (remote work) berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental dalam jangka panjang, terutama bagi pekerja yang tinggal sendiri.

Penelitian yang dikutip dari Psychology Today pada Selasa (21/7) tersebut menganalisis data lebih dari 500.000 orang dewasa di Amerika Serikat dengan membandingkan pekerja yang bekerja secara jarak jauh dan pekerja yang bekerja secara langsung di kantor.

Hasil penelitian menunjukkan pekerja remote rata-rata menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih lama sendirian setiap hari dibandingkan pekerja non-remote.

Kondisi tersebut diikuti peningkatan tekanan psikologis, depresi, kecemasan, dan rasa kesepian.

Dampak Berbeda Bergantung Kondisi Pekerja

Penelitian menemukan pekerja remote yang tinggal bersama keluarga tidak mengalami peningkatan tekanan psikologis maupun waktu menyendiri secara signifikan.

Sebaliknya, pekerja yang tinggal sendiri lebih banyak menghabiskan waktu sendirian dan mengalami peningkatan tekanan psikologis.

Studi tersebut juga menunjukkan pekerja yang baru beralih ke sistem kerja remote belum mengalami peningkatan gangguan kesehatan mental.

Temuan itu mengindikasikan dampak negatif kerja jarak jauh cenderung muncul setelah dijalani dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Sistem Kerja Fleksibel Dinilai Menjadi Alternatif

Penelitian menyebut berkurangnya interaksi sosial menjadi salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap memburuknya kesehatan mental pekerja remote yang tinggal sendiri.

Di sisi lain, pekerja neurodivergen, termasuk penyandang autisme dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), justru menilai kebijakan kembali bekerja penuh di kantor dapat menjadi sumber stres.

Sistem kerja fleksibel maupun hybrid dinilai lebih sesuai bagi sebagian pekerja neurodivergen karena interaksi sosial secara tatap muka tidak selalu memberikan pengalaman yang positif.

Penelitian lain terhadap sekitar 1.600 pekerja di China juga menunjukkan sistem kerja fleksibel dan hybrid mampu meningkatkan kepuasan kerja, kinerja, serta kesehatan mental, terutama bagi pekerja dengan waktu tempuh perjalanan yang panjang dan perempuan.

Penelitian tersebut menyimpulkan dampak kerja jarak jauh tidak dapat digeneralisasi karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi tempat tinggal, karakteristik individu, hingga budaya dan sistem transportasi di setiap negara.

Penulis :
Ahmad Yusuf