HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Telehealth dan AI Didorong Perluas Akses Layanan Kesehatan di Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Telehealth dan AI Didorong Perluas Akses Layanan Kesehatan di Indonesia
Foto: (Sumber :Forum kesehatan bertajuk Healthier Futures, Sooner: How Technology Closes the Gap in Care membahas tentang pemanfaatan telehealth atau telemedicine serta AI untuk mengatasi tantangan geografis dalam layanan kesehatan di Indonesia. (ANTARA/HO-RMIT Indonesia).)

Pantau - Pemanfaatan telehealth dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) didorong untuk memperluas akses layanan kesehatan di Indonesia, terutama dalam menghadapi ketimpangan distribusi tenaga kesehatan dan kondisi geografis yang beragam.

"Prioritas layanan kesehatan Indonesia membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan realitas yang dihadapi pasien dan tenaga kesehatan di Indonesia," kata Direktur RMIT Indonesia Tantia Dian Permata Indah dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Pemanfaatan telehealth, pemantauan pasien jarak jauh, AI, sensor wearable, biomarker, serta sistem kesehatan yang saling terhubung menjadi pembahasan dalam forum kesehatan bertajuk Healthier Futures, Sooner: How Technology Closes the Gap in Care di Jakarta.

Teknologi tersebut dinilai dapat membantu sistem kesehatan Indonesia menghadapi tantangan geografis, meningkatnya beban penyakit kronis, serta distribusi tenaga kesehatan yang belum merata.

Telehealth Didorong Jangkau Pasien di Daerah

Tenaga medis dan tenaga kesehatan saat ini masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan Pulau Jawa, sementara kawasan timur Indonesia menghadapi kekurangan tenaga dalam jumlah besar.

Teknologi kesehatan dinilai dapat melengkapi kapasitas tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses layanan.

Telehealth dan pemantauan jarak jauh dapat mendukung pelayanan tanpa selalu mengharuskan pasien dan tenaga kesehatan berada di lokasi yang sama.

Sementara AI, biomarker, dan perangkat wearable dapat digunakan untuk mendukung diagnosis lebih dini, pemantauan kondisi pasien, pencegahan, serta rehabilitasi.

Penggunaan berbagai teknologi tersebut tetap membutuhkan keterlibatan tenaga kesehatan agar penerapannya sesuai dengan kebutuhan klinis.

"Riset menghasilkan nilai terbesar ketika manfaatnya menjangkau pasien dan meningkatkan praktik sehari-hari. Para peneliti, klinisi, dan organisasi layanan kesehatan perlu bekerja bersama sejak awal agar gagasan baru dapat diterapkan secara aman dan efektif dalam layanan kesehatan," kata Profesor Ross Vlahos dari RMIT University.

RMIT dan Mandaya Jajaki Riset Bersama

Forum tersebut mempertemukan peneliti, klinisi, dan pemimpin sektor kesehatan dari Australia serta Indonesia untuk membahas penerapan teknologi kesehatan dalam pelayanan nyata.

RMIT University dan Mandaya Hospital Group turut membahas peluang pengembangan riset bersama serta penerapan hasil penelitian dalam praktik klinis.

"Menggabungkan keahlian riset RMIT dengan pengetahuan klinis lokal Mandaya dapat membantu kami mengidentifikasi solusi yang relevan bagi Indonesia dan menjajaki bagaimana solusi tersebut dapat diterapkan secara bertanggung jawab dalam layanan kesehatan nyata," kata Presiden Direktur Mandaya Hospital Group Dr Ben Widaja.

Kolaborasi tersebut berpotensi dikembangkan melalui riset bersama, penerapan hasil penelitian dalam praktik klinis, pengembangan tenaga kesehatan, serta uji coba teknologi untuk menjawab berbagai tantangan kesehatan di Indonesia.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026