HOME  ⁄  Nasional

Netty Soroti Istitha'ah Kesehatan, Minta Skrining Jemaah Haji Diperketat

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Netty Soroti Istitha'ah Kesehatan, Minta Skrining Jemaah Haji Diperketat
Foto: Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI Netty Prasetiyani Aher (sumber: DPR RI)

Pantau - Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyoroti pentingnya penerapan istitha'ah kesehatan dalam penyelenggaraan ibadah haji dan meminta evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penetapan kelayakan kesehatan jemaah.

Pemahaman Istitha'ah Dinilai Belum Utuh

Netty menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji tidak menghilangkan kebutuhan untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek layanan jemaah.

Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai istitha'ah haji masih sering terbatas pada kemampuan finansial untuk membayar biaya perjalanan haji.

Ia mengatakan, "Istitha'ah Haji itu bahwa jemaah haji yang akan berangkat dinyatakan memiliki kemampuan. Bukan hanya kemampuan membayar biaya atau terkait ongkos naik Haji saja, tapi juga Istitha'ah dalam aspek kesehatan."

Berdasarkan hasil pengawasan langsung di Tanah Suci, Netty menemukan masih banyak jemaah Indonesia yang berangkat dalam kondisi kesehatan rentan.

Sebagian besar jemaah berisiko tinggi tersebut merupakan kelompok lanjut usia yang menderita penyakit kronis seperti hipertensi, gangguan jantung, dan gagal ginjal.

Temuan yang paling mendapat perhatian adalah adanya jemaah yang menderita kanker stadium akhir namun tetap diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji.

Ia menyatakan, "Salah satu yang juga sangat miris, ada jemaah Haji yang menderita kanker stadium akhir. Di Tanah Suci, setiap hari beliau merasa kesakitan. Seharusnya yang seperti ini tidak diperbolehkan berangkat."

Menurut Netty, kondisi tersebut menunjukkan bahwa mekanisme penetapan istitha'ah kesehatan masih perlu dievaluasi secara menyeluruh.

Tantangan Berat Jemaah Rentan di Tanah Suci

Netty menilai tantangan yang dihadapi jemaah dengan kondisi kesehatan lemah sangat berat selama berada di Tanah Suci.

Selain suhu udara yang tinggi, jutaan orang yang berkumpul dalam satu lokasi turut meningkatkan beban fisik bagi jemaah.

Jarak pemondokan yang relatif jauh dari lokasi kegiatan ibadah serta mobilitas yang padat selama pelaksanaan haji juga menjadi kendala bagi jemaah lansia dan jemaah sakit.

Puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina disebut menjadi ujian yang sangat berat bagi jemaah dengan kondisi kesehatan rentan.

Netty menjelaskan bahwa sejak 8 Dzulhijjah sebagian besar jemaah sudah berada di Arafah untuk mempersiapkan prosesi wuquf pada 9 Dzulhijjah.

Ia mengatakan, "Pada saat wuquf, jemaah Haji berdiam di Arafah, bermunajat, berdzikir, dan sejumlah aktivitas ibadah lainnya sejak zuhur hingga Magrib."

Dalam pelaksanaannya, banyak jemaah lansia dan penderita penyakit kronis memerlukan dukungan khusus, mulai dari penggunaan ambulans hingga pendampingan dan pelayanan kesehatan intensif dari petugas medis.

Penguatan Pembinaan dan Penambahan Petugas Kesehatan

Netty menilai penguatan skrining kesehatan harus menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan haji pada tahun-tahun mendatang.

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan tidak cukup dilakukan menjelang keberangkatan, tetapi harus dibarengi pembinaan kesehatan secara berkelanjutan sejak jauh hari.

Ia mendorong penguatan program rujuk balik bagi calon jemaah yang memiliki penyakit tertentu serta peningkatan edukasi kepada keluarga.

Pemeriksaan kesehatan rutin, kepatuhan mengonsumsi obat, dan pemenuhan kebutuhan gizi juga dinilai harus menjadi bagian dari ekosistem pembinaan kesehatan haji.

Netty menekankan pentingnya kolaborasi antara Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, puskesmas, dan rumah sakit dalam memastikan kesiapan kesehatan jemaah.

Selain kesiapan jemaah, kebutuhan tenaga kesehatan juga menjadi perhatian Timwas Haji DPR RI.

Berdasarkan hasil kunjungan ke berbagai sektor dan kelompok terbang (kloter), Netty menilai jumlah petugas kesehatan masih perlu ditingkatkan.

Ia menyatakan, "Penambahan jumlah petugas di setiap kloter nampaknya menjadi salah satu yang perlu dipertimbangkan untuk penyelenggaraan haji tahun yang akan datang."

Timwas Haji DPR RI menilai evaluasi terhadap istitha'ah kesehatan tidak hanya berkaitan dengan administrasi keberangkatan, tetapi juga menyangkut keselamatan jemaah selama menjalankan ibadah serta memastikan mereka dapat beribadah secara aman dan sesuai kemampuan yang dipersyaratkan dalam syariat Islam.

Penulis :
Shila Glorya