
Pantau - Pengamat ekonomi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Bali, Prof Dr Ida Bagus Raka Suardana mengimbau masyarakat untuk mengelola keuangan secara bijak dan mengurangi gaya hidup konsumtif di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Sebagai masyarakat biasa, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pola konsumsi menjadi lebih bijak dan produktif,” ungkap Raka Suardana di Denpasar, Rabu (3/6).
Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Undiknas tersebut, pelemahan rupiah umumnya membuat harga barang impor naik lebih cepat dibandingkan peningkatan pendapatan masyarakat.
Ia menyarankan masyarakat mengurangi pembelian barang impor yang tidak terlalu penting dan lebih mengutamakan produk lokal.
Langkah tersebut dinilai dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat pelaku UMKM dalam negeri.
Bangun Ketahanan Keuangan Keluarga
Raka menekankan pentingnya membangun ketahanan keuangan keluarga dengan memperbesar tabungan dan menyiapkan dana darurat.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi utang konsumtif serta lebih berhati-hati dalam menggunakan fasilitas kredit saat kondisi ekonomi bergejolak.
“Dalam situasi rupiah melemah, masyarakat sebaiknya memperbesar tabungan, mengurangi utang konsumtif, dan lebih berhati-hati menggunakan fasilitas kredit. Banyak keluarga saat ini rentan karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, sementara harga kebutuhan pokok terus meningkat,” ujarnya.
Menurutnya, kepanikan berlebihan justru dapat memperburuk kondisi ekonomi melalui perilaku konsumtif dan spekulatif.
“Yang dibutuhkan adalah sikap adaptif, hemat, produktif, serta meningkatkan keterampilan agar mampu bertahan di tengah perubahan ekonomi global,” imbuhnya.
Pelemahan Rupiah Buka Peluang bagi UMKM dan Pariwisata
Di sisi lain, Raka menilai pelemahan rupiah juga dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi sektor usaha lokal dan pariwisata.
Nilai tukar yang lebih rendah membuat biaya berwisata di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan mancanegara sehingga berpotensi meningkatkan kunjungan wisata.
Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis lokal, ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan, hingga jasa digital.
“Di Bali misalnya, ketika wisatawan asing meningkat akibat nilai tukar yang menguntungkan, UMKM lokal ikut merasakan dampak positif melalui peningkatan penjualan dan perputaran ekonomi rakyat,” katanya.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menembus level Rp17.926 per dolar AS pada Rabu.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia serta memperkuat posisi dolar AS.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





