HOME  ⁄  Nasional

Bukittinggi Sambut Delegasi 38 Negara di IMLF 2026 yang Bertepatan dengan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Bukittinggi Sambut Delegasi 38 Negara di IMLF 2026 yang Bertepatan dengan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang
Foto: Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias dan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah saat pembukaan malam lintas budaya penyambutan delegasi 38 negara peserta International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 di Bukittinggi, Sumateraa Barat, Rabu 3/6/2026 (sumber: ANTARA/Al Fatah)

Pantau - Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, menyambut kedatangan delegasi dari 38 negara yang mengikuti International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang, sebagai ajang memperkuat literasi, jejaring internasional, serta memperkenalkan budaya Minangkabau kepada dunia.

IMLF 2026 Jadikan Bukittinggi Pusat Literasi dan Pertemuan Dunia

Ketua IMLF Sastri Bakry menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bukittinggi, pemerintah daerah, akademisi, pegiat literasi, media, relawan, dan para duta besar dari berbagai negara yang mendukung penyelenggaraan IMLF 2026.

Sastri Bakry menegaskan keberhasilan penyelenggaraan IMLF merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak.

"Jam gadang tidak hanya menjadi benda mati atau penanda waktu, tetapi telah menghidupkan semangat literasi, budaya dan kolaborasi. Melalui IMLF, perhatian dunia tertuju ke Bukittinggi," ungkapnya.

Selama penyelenggaraan IMLF, Bukittinggi diharapkan menjadi perpustakaan tanpa dinding yang mempertemukan berbagai bangsa, bahasa, sastra, dan budaya dunia.

Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi sarana memperkuat persahabatan dan perdamaian dunia melalui literasi dan pertukaran budaya.

Peringatan 100 Tahun Jam Gadang Perkuat Diplomasi Budaya

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menyampaikan bahwa Bukittinggi merupakan kota bersejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia sejak ditetapkan hari lahirnya pada 22 Desember 1784.

Sejak berdiri, Bukittinggi berkembang sebagai pusat perdagangan, pendidikan, perjuangan, dan peradaban Minangkabau.

"Sejarah Bukittinggi tidak hanya mencatat perjalanan sebuah kota, tetapi juga perjalanan bangsa. Mulai dari masa Perang Paderi, berkembangnya pusat perdagangan dan pendidikan, hingga lahirnya tokoh-tokoh besar nasional seperti Proklamator RI Mohammad Hatta," ujarnya.

Ramlan menjelaskan Jam Gadang yang dibangun pada 1926 telah menjadi simbol yang memperkuat identitas Bukittinggi sebagai kota sejarah yang menjaga warisan masa lalu.

Menurutnya, peringatan 100 tahun Jam Gadang tidak hanya menjadi perayaan usia bangunan bersejarah, tetapi juga momentum memperkuat diplomasi budaya, melestarikan sejarah, memperkenalkan Bukittinggi sebagai kota sejarah dunia, serta mempromosikannya sebagai destinasi wisata internasional.

"Momentum 100 tahun jam gadang ini juga menjadi pengingat bagi kita untuk membangun masa depan tanpa melupakan akar sejarah dan budaya yang dimiliki," katanya.

Pemerintah Kota Bukittinggi saat ini juga menjalankan program Integrated City Planning (ICP) dalam National Urban Development Project (NUDP) untuk mengarahkan kota menjadi lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan.

Di saat yang sama, Bukittinggi tetap mempertahankan identitasnya sebagai kota pusaka, kota wisata, dan kota perjuangan.

Literasi Dinilai Menjadi Fondasi Perdamaian dan Pembangunan Berkelanjutan

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyatakan penyelenggaraan IMLF 2026 menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang.

Mahyeldi menegaskan masyarakat Minangkabau memiliki tradisi literasi yang kuat yang lahir dari filosofi alam takambang jadi guru.

Menurutnya, filosofi tersebut telah melahirkan banyak tokoh nasional di bidang pendidikan, sastra, dan kebangsaan.

"Tema IMLF 2026, The 100 Years of Jam Gadang From Literacy to Legacy, Building World Peace and Sustainability Learnin, sangat relevan dengan tantangan zaman," ujarnya.

Mahyeldi mengatakan tema tersebut menekankan pentingnya literasi, warisan budaya, perdamaian dunia, dan pembelajaran berkelanjutan.

Ia menambahkan literasi saat ini tidak hanya berarti kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami perubahan zaman, membangun peradaban, memperkuat perdamaian, dan menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Mahyeldi menegaskan literasi merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia unggul di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

"IMLF menjadi wadah membangun jejaring global, memperkuat persahabatan antarbangsa, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai luhur budaya Minangkabau kepada dunia," katanya.

Penyelenggaraan IMLF 2026 menempatkan Bukittinggi sebagai pusat pertemuan budaya dan literasi global dengan menghadirkan delegasi dari 38 negara serta mengangkat literasi sebagai sarana membangun perdamaian dunia dan memperkuat jejaring internasional.

Penulis :
Arian Mesa