
Pantau - Duta Besar Republik Indonesia untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun memaparkan empat bidang utama yang akan menjadi fokus kerja sama Indonesia-China pada babak baru hubungan bilateral, yakni kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pengembangan sumber daya manusia.
AI dan Energi Jadi Prioritas Strategis
Djauhari menyampaikan hal tersebut dalam diskusi Ambassador Forum ke-18 bertajuk A New Stage and New Vision for China-Indonesia Relations yang berlangsung di Universitas Renmin, Beijing, Kamis (4/6).
Menurutnya, AI memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas layanan publik di berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, penanggulangan bencana, hingga pengembangan kota pintar.
“AI menjadi semakin penting ketika banyak negara menghadapi tekanan fiskal yang meningkat dan tuntutan pelayanan publik yang semakin besar. AI dapat membantu pemerintah memberikan layanan yang lebih baik dengan sumber daya yang terbatas sehingga kedaulatan AI menjadi semakin penting,” ungkap Djauhari.
Ia juga menilai kerja sama di sektor energi memiliki prospek besar karena Indonesia memiliki keunggulan sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dan menyimpan sekitar 40 persen potensi panas bumi global, sementara China merupakan salah satu pemimpin dunia dalam energi terbarukan.
“Setiap pusat data, pabrik cerdas, dan platform digital lainnya pada akhirnya bergantung pada pasokan listrik yang andal. Indonesia memiliki sejumlah keunggulan unik di bidang energi,” ujarnya.
Ketahanan Pangan dan Pengembangan SDM
Di bidang ketahanan pangan, Djauhari menilai perubahan iklim yang memengaruhi produksi pangan global membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara kedua negara melalui pemanfaatan teknologi pertanian modern.
Ia menyebut teknologi seperti pertanian berbasis AI, irigasi cerdas, dan pertanian presisi dapat meningkatkan produktivitas sektor pertanian nasional.
“Program Makan Bergizi Gratis Indonesia akan semakin meningkatkan permintaan terhadap pangan yang diproduksi di dalam negeri serta memperkuat rantai pasok pertanian. Hal ini membuka peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” katanya.
Fokus keempat adalah pengembangan sumber daya manusia melalui kerja sama penelitian, pendidikan vokasi, program magang, pertukaran perguruan tinggi, dan pengembangan kurikulum terkait teknologi AI.
Hubungan Ekonomi Semakin Kuat
Djauhari juga menyoroti eratnya hubungan ekonomi Indonesia dan China yang terus berkembang dalam satu dekade terakhir.
Pada 2025, nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar 167 miliar dolar AS, sementara investasi China di Indonesia mencapai sekitar 7,5 miliar dolar AS.
Menurutnya, nilai perdagangan kedua negara meningkat tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir, sedangkan investasi China tumbuh sekitar 12 kali lipat.
“Keberhasilan kemitraan Indonesia-China juga tercermin dalam berbagai proyek konkret yang telah menjadi simbol kerja sama Selatan-Selatan. Di bidang infrastruktur, salah satunya adalah Kereta Cepat Jakarta-Bandung, kereta cepat pertama di Asia Tenggara,” ungkapnya.
Djauhari juga menyoroti perkembangan investasi kendaraan listrik China di Indonesia yang terus meningkat seiring membaiknya iklim investasi nasional.
“Ketika saya pertama kali datang ke China, belum ada satu pun merek kendaraan listrik China di Indonesia. Tahun lalu jumlahnya mencapai 16 perusahaan, hal ini menunjukkan bahwa iklim investasi di Indonesia semakin membaik,” ujarnya.
Dialog Jadi Kunci Hubungan Bilateral
Menjawab pertanyaan mengenai warisan yang ingin ditinggalkan selama bertugas di Beijing sejak 2018, Djauhari menekankan pentingnya membangun budaya dialog antara pemimpin kedua negara.
“Jika ada satu kontribusi yang saya banggakan, mungkin adalah membantu memperkuat habit of dialogue antara para pemimpin kedua negara. Karena saya percaya, sekuat apa pun tantangan yang akan kita hadapi di masa depan, selama dialog tetap menjadi kebiasaan, hubungan Indonesia dan China akan tetap rasional dalam perbedaan, konstruktif dalam tantangan, dan optimistis terhadap masa depan,” ungkapnya.
Di akhir paparannya, Djauhari menegaskan bahwa kerja sama Indonesia-China harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Teknologi memiliki nilai ketika mampu memperbaiki kehidupan manusia. Pembangunan memiliki makna ketika mampu memperluas kesempatan dan kerja sama akan berhasil ketika mampu melayani kemanusiaan,” tutupnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan





