HOME  ⁄  Nasional

Di Hadapan Pelaku Pasar Modal, Ibas: Patriotisme Ekonomi Harus Dibangun di Atas Etika, Integritas, dan Kepercayaan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Di Hadapan Pelaku Pasar Modal, Ibas: Patriotisme Ekonomi Harus Dibangun di Atas Etika, Integritas, dan Kepercayaan
Foto: Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menyampaikan sambutan dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk "Membangun Patriotisme Ekonomi Melalui Etika, Integritas, dan Kepercayaan Publik" di Kompleks MPR RI, Jakarta, Kamis (4/6/2026). Ibas mengajak pelaku pasar modal untuk membangun kepercayaan sebagai fondasi utama kemajuan ekonomi nasional.

Jakarta - Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, mengajak seluruh pelaku pasar modal, investor, akademisi, dan generasi muda untuk membangun patriotisme ekonomi melalui penguatan etika, integritas, dan kepercayaan publik sebagai fondasi utama kemajuan ekonomi nasional.

Ajakan tersebut disampaikan Ibas dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk "Membangun Patriotisme Ekonomi Melalui Etika, Integritas, dan Kepercayaan Publik: Dari Investor Menjadi Pemilik Masa Depan Indonesia" yang digelar di Kompleks MPR RI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Pasar Modal Cermin Kepercayaan: Geoekonomi Modern Bertarung lewat Modal, Data, dan Investasi

Dalam sambutannya, Edhie Baskoro Yudhoyono menegaskan bahwa tantangan dunia saat ini semakin kompleks. Persaingan geopolitik global, ketegangan ekonomi antarnegara, hingga perkembangan teknologi yang sangat cepat telah mengubah lanskap perekonomian dunia.

"Geoekonomi menunjukkan bahwa pertarungan utama saat ini bukan lagi soal senjata, melainkan soal modal, data, dan investasi. Dalam kondisi seperti ini, satu hal menjadi yang paling krusial, yaitu kepercayaan," ujarnya.

Menurut Wakil Ketua Umum Partai Demokrat tersebut, kepercayaan merupakan modal yang tidak kalah penting dibandingkan sumber daya alam maupun kekuatan finansial. Kepercayaan menjadi faktor yang menentukan masuk atau keluarnya investasi, sekaligus menjadi fondasi stabilitas ekonomi suatu negara.

Mengutip ekonom peraih Nobel, Robert Shiller, ia mengatakan bahwa unsur terpenting dalam ekonomi adalah kepercayaan.

"Ekonomi tidak berdiri di atas modal saja, tetapi berdiri di atas kepercayaan. Ketika kepercayaan tumbuh, investasi akan datang. Ketika investasi datang, pertumbuhan ekonomi akan bergerak lebih cepat," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII itu juga memaparkan bahwa Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, Indonesia didukung oleh populasi besar, bonus demografi, pasar domestik yang kuat, serta sumber daya alam yang melimpah.

Selain itu, stabilitas fiskal dan moneter yang terus dijaga menjadi modal penting menghadapi berbagai tantangan global yang masih berlangsung.

"Indonesia memiliki semua faktor penggerak yang dibutuhkan untuk maju. Kita memiliki sumber daya, pasar yang besar, generasi muda yang produktif, dan ketahanan ekonomi yang terbukti mampu menghadapi berbagai krisis," ujarnya.

Lulusan S3 IPB University tersebut menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi nasional harus bermuara pada tujuan bernegara sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Karena itu, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya diukur dari angka, tetapi juga harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Good Governance Keharusan bagi Pasar Modal yang Berintegritas dan Berkelanjutan

Dalam konteks pasar modal, Ibas yang kini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN Indonesia menilai bahwa pasar modal merupakan cerminan tingkat kepercayaan terhadap masa depan perekonomian Indonesia.

Ia mencontohkan bagaimana pasar modal Indonesia terus berkembang dan menunjukkan daya tahan yang kuat setelah melewati berbagai periode krisis.

"Pasar modal adalah cermin kepercayaan. Dari berbagai krisis yang pernah kita hadapi, Indonesia terus tumbuh, belajar, dan bangkit. Kita memang masih berkembang dibandingkan pasar global yang lebih maju, tetapi justru di situlah letak peluang besar Indonesia," katanya.

Ia menambahkan bahwa di tingkat global, berbagai indikator investasi dan peringkat kredit menjadi barometer yang menunjukkan tingkat kepercayaan dunia terhadap sebuah negara. Oleh sebab itu, penerapan tata kelola yang baik, transparansi, dan akuntabilitas harus terus diperkuat.

"Good governance bukan pilihan, melainkan keharusan. Kepercayaan tidak dapat dibangun hanya dengan narasi, tetapi harus dibuktikan melalui tata kelola yang baik, konsistensi kebijakan, dan integritas seluruh pemangku kepentingan," tegasnya.

Dalam pidatonya, lulusan S2 Nanyang Technological University, Singapura, itu juga mengingatkan bahwa sejarah ekonomi dunia menunjukkan setiap krisis selalu melahirkan peluang baru bagi mereka yang memiliki kesiapan dan perspektif jangka panjang.

Ia mengutip pandangan investor legendaris Warren Buffett yang menyatakan bahwa investor harus mampu melihat peluang ketika banyak orang diliputi ketakutan.

"Setiap krisis melahirkan pemenang baru bagi mereka yang siap. Investasi adalah maraton, bukan sprint. Yang bertahan dan berhasil adalah mereka yang memahami fundamental, menghargai nilai jangka panjang, dan menjaga disiplin," ujarnya.

Ia juga mengajak para investor untuk membedakan investasi dengan spekulasi sebagaimana diajarkan Benjamin Graham.

"Investor harus bertindak sebagai investor, bukan spekulan. Ekonomi membutuhkan kesabaran, pasar membutuhkan konsistensi, dan bangsa membutuhkan kepercayaan," katanya.

Lebih lanjut, Edhie Baskoro menegaskan bahwa investor memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional karena sesungguhnya mereka bukan sekadar pencari keuntungan, melainkan bagian dari pemilik masa depan bangsa.

"Investor adalah pemilik masa depan. Trader adalah penjaga likuiditas dan efisiensi pasar. Namun keduanya wajib berpijak pada etika. Tanpa etika, pasar kehilangan kepercayaan. Dan tanpa kepercayaan, pasar kehilangan masa depan," tegasnya.

Menurutnya, inilah yang disebut sebagai patriotisme ekonomi, yakni ketika aktivitas investasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial semata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat literasi keuangan, memperluas partisipasi investor domestik, menjaga integritas pasar modal, serta membangun ekosistem investasi yang sehat dan berkelanjutan.

"Mari kita bangun bersama literasi keuangan yang kuat, investor domestik yang tangguh, pasar yang berintegritas, dan ekonomi yang berkelanjutan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya, tetapi bangsa yang dipercaya," ujarnya.

Menutup sambutannya, Ibas menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia apabila seluruh elemen bangsa mampu menjaga etika, integritas, dan kepercayaan sebagai budaya bersama.

"Jika etika menjadi fondasi, integritas menjadi karakter, dan kepercayaan menjadi budaya, maka Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi besar dunia. Dari investor menjadi pemilik, dari pemilik menjadi penggerak, dan dari penggerak menjadi pembangun masa depan Indonesia," pungkasnya.

Pelaku Pasar Modal Soroti Kepastian Hukum dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Sementara itu, para peserta diskusi yang berasal dari kalangan pelaku pasar modal, akademisi, praktisi, dan investor menilai bahwa tantangan utama yang dihadapi pasar modal Indonesia saat ini bukan hanya terkait pergerakan IHSG maupun nilai tukar rupiah, melainkan persoalan kepercayaan investor yang dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan, perubahan regulasi yang dinilai kurang konsisten, serta komunikasi publik yang belum efektif.

Mereka menekankan pentingnya kepastian hukum, transparansi tata kelola, penguatan pengawasan pasar modal, dan sosialisasi kebijakan yang lebih baik guna menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun global.

Selain itu, para peserta juga mendorong penguatan literasi keuangan dan kualitas investor, percepatan reformasi pasar modal, serta penyederhanaan berbagai proses pendanaan seperti IPO dan right issue untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan investasi global.

Sejumlah anggota DPR RI yang hadir dalam forum turut menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang konsisten dan transparan. Hillary Brigitta Lasut menekankan perlunya integrasi antarkementerian dalam penyusunan kebijakan ekonomi serta perluasan edukasi keuangan kepada masyarakat. Senada dengan itu, Achmad menegaskan bahwa kepastian hukum dan regulasi yang jelas merupakan kunci untuk meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kolaborasi pemerintah, koperasi, dan sektor swasta.

Di sisi lain, Wahyu Sanjaya dan Marwan Cik Asan berharap pengesahan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat sektor keuangan nasional sekaligus memulihkan kepercayaan pasar. Adapun Fathi menilai tantangan utama saat ini terletak pada persepsi dan kredibilitas informasi yang diterima pasar, sehingga komunikasi kebijakan publik yang lebih baik menjadi faktor penting untuk menjaga optimisme investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.

Menutup diskusi, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat tersebut berharap berbagai masukan yang disampaikan para pelaku pasar modal, akademisi, investor, dan anggota DPR RI dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan yang semakin memperkuat kepercayaan publik, meningkatkan daya saing pasar modal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi seluruh rakyat.

Penulis :
Shila Glorya