HOME  ⁄  Nasional

Pemprov Babel Bentuk TRC Lintas Instansi untuk Antisipasi Ancaman El Nino dan Karhutla

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pemprov Babel Bentuk TRC Lintas Instansi untuk Antisipasi Ancaman El Nino dan Karhutla
Foto: (Sumber : Polda Kepulauan Bangka Belitung bersama Pemerintah Provinsi Kepulauan Babel serta instansi terkait lainnya mengelar Rakor Penanganan Karhutla Antisipasi Fenomena El Nino Godzilla Tahun 2026. ANTARA/Aprionis.)

Pantau - Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) lintas instansi guna mengantisipasi dan menangani potensi ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan memicu musim kemarau panjang serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.

Kepala BPBD Kepulauan Babel Budi Utama mengatakan pembentukan tim ini melibatkan BPBD se-Kepulauan Babel, Polri, TNI, organisasi masyarakat, dan berbagai instansi terkait lainnya.

"Pembentukan TRC ini penting untuk mengantisipasi dan menangani kebakaran hutan, lahan, kekeringan, dan lainnya, selama musim kemarau ini," ungkap Budi Utama.

Ia menjelaskan bahwa pembentukan tim tersebut merupakan langkah preventif, deteksi dini, serta kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi dampak El Nino 2026.

"Kami sudah melakukan rapat koordinasi pembentukan TRC lintas instansi ini dan mudah-mudahan dalam waktu dekat ini akan ditetapkan oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani," ujarnya.

El Nino Tingkatkan Risiko Karhutla

Budi Utama menjelaskan fenomena El Nino terjadi akibat pemanasan suhu di Samudera Pasifik yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan ekstrem di Indonesia, termasuk di Kepulauan Bangka Belitung.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kekeringan pada lahan gambut dan kawasan hutan sehingga risiko karhutla semakin tinggi.

"Fenomena El Nino ini mengakibatkan kemarau tahun ini lebih panjang yang diperkirakan berlangsung dua hingga tiga bulan atau lebih lama dari normal sehingga meningkatkan kekeringan lahan gambut dan hutan," katanya.

Selain memperpanjang musim kemarau, El Nino juga diperkirakan menyebabkan kenaikan suhu udara rata-rata satu hingga tiga derajat Celsius.

Imbauan Tidak Membakar Lahan

BPBD Babel mencatat curah hujan selama musim kemarau diperkirakan turun hingga sekitar 40 persen dari kondisi normal sehingga kelembaban tanah menjadi sangat rendah.

Kondisi tersebut diperparah dengan angin kencang dan kering yang dapat mempercepat penyebaran api saat terjadi kebakaran.

"Selama musim kemarau ini tentunya terjadi penurunan curah hujan lebih kurang 40 persen dari rata-rata normal, yang menyebabkan kelembaban tanah sangat rendah," kata Budi Utama.

Ia menambahkan peningkatan kejadian karhutla di Belitung Timur menjadi salah satu bukti dampak cuaca ekstrem yang sedang terjadi.

"Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau ekstrem ini, agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan lebih luas yang akan merugikan lingkungan dan masyarakat lainnya," ujarnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf