HOME  ⁄  Nasional

Dubes RI di AS Dorong Pertemuan Daring Siswa SD untuk Pererat Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Dubes RI di AS Dorong Pertemuan Daring Siswa SD untuk Pererat Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat
Foto: Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo bersama para siswa Amerika Serikat (sumber: KBRI Washington)

Pantau - Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, mendorong perluasan kerja sama pendidikan Indonesia dan Amerika Serikat melalui program pertemuan daring antarsiswa sekolah dasar guna mempererat hubungan kedua negara sejak usia dini dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Ia mengungkapkan, "Kami berharap ke depannya dapat dikembangkan program pertemuan daring antara siswa sekolah dasar di Indonesia dan Amerika Serikat agar mereka dapat saling mengenal sejak usia dini melalui dukungan teknologi yang semakin maju."

Program tersebut diharapkan membantu siswa saling mengenal, memperkenalkan budaya masing-masing negara, membangun hubungan antarmasyarakat yang lebih kuat di masa depan, serta mempererat hubungan Indonesia dan Amerika Serikat melalui jalur pendidikan.

Gagasan itu muncul setelah keberhasilan pelaksanaan Embassy Adoption Program (EAP) yang selama ini memperkenalkan Indonesia kepada siswa sekolah negeri di Washington D.C. melalui berbagai kegiatan pendidikan dan budaya.

Kunjungan Siswa ke Wisma Indonesia

Pada 2 Juni 2026, siswa kelas lima dari John R. Francis Education Campus mengunjungi Wisma Indonesia di Washington D.C. sebagai bagian dari rangkaian kegiatan EAP.

Dalam kunjungan tersebut, para siswa menunjukkan antusiasme tinggi saat menjawab berbagai pertanyaan mengenai seni dan budaya Indonesia.

Kemampuan para siswa mengenali Indonesia merupakan hasil pembelajaran yang mereka peroleh selama mengikuti program EAP.

Menurut Indroyono, melalui program tersebut Indonesia tidak hanya diperkenalkan sebagai negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara.

Indonesia juga hadir secara nyata dalam pengalaman belajar generasi muda Amerika Serikat.

Ia memberikan apresiasi terhadap EAP sebagai bagian penting dari soft diplomacy yang efektif memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.

EAP Hubungkan Puluhan Ribu Siswa dengan Kedutaan Besar

Embassy Adoption Program merupakan program pendidikan global yang menghubungkan siswa sekolah negeri di Washington D.C. dengan kedutaan besar dan perwakilan diplomatik dari berbagai negara.

Program tersebut didirikan pada 1974 melalui kerja sama Washington D.C. Public Schools (DCPS) dan Washington Performing Arts.

Melalui program ini, siswa kelas 5 dan 6 mempelajari berbagai aspek negara yang diadopsi, termasuk bahasa, budaya, sejarah, kuliner, dan pandangan terhadap isu-isu global.

Dalam pelaksanaannya, diplomat secara rutin mengunjungi kelas untuk memberikan materi kepada siswa.

Guru dan perwakilan kedutaan juga bekerja sama menyusun kurikulum yang disesuaikan dengan standar pendidikan DCPS.

Puncak kegiatan EAP adalah Capstone Presentation yang diselenggarakan di Wisma Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa mempresentasikan hasil pembelajaran mereka di hadapan orang tua, perwakilan diplomatik, dan Washington Performing Arts.

Hingga saat ini, EAP telah menghubungkan lebih dari 50.000 siswa di Washington D.C. dengan lebih dari 100 kedutaan besar dan lembaga diplomatik dari berbagai negara.

Program tersebut juga pernah menerima penghargaan dari Departemen Pendidikan Amerika Serikat sebagai program pendidikan internasional terbaik.

KBRI Washington telah berpartisipasi dalam EAP selama sekitar 20 tahun terakhir.

Pada tahun ajaran 2025–2026, KBRI Washington bekerja sama dengan John R. Francis Education Campus dalam berbagai kegiatan bertema Indonesia, termasuk lokakarya membatik untuk memperkenalkan batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Program-program semacam ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman lintas budaya, meningkatkan hubungan masyarakat kedua negara, serta memperkenalkan Indonesia kepada generasi muda Amerika Serikat secara lebih dekat dan berkelanjutan.

Penulis :
Leon Weldrick