
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan Indonesia masih menghadapi tantangan berupa fragmentasi data risiko bencana di berbagai instansi sehingga diperlukan model keterpaparan multi-bahaya yang terpadu untuk memperkuat perencanaan pembangunan dan ketahanan bencana.
BRIN Dorong Kolaborasi Lintas Lembaga
Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian mengatakan berbagai data penting sebenarnya telah tersedia di sejumlah lembaga, seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Pusat Statistik, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, hingga perguruan tinggi.
“Saat ini lanskap data di Indonesia mulai dibangun melalui Kebijakan Satu Data dan Satu Data Bencana Nasional. Namun, data masih terfragmentasi. Data berharga tersedia di berbagai institusi, tetapi ketiadaan basis data keterpaparan nasional yang terpadu membatasi kemampuan kita untuk memproyeksikan dampak secara efektif,” ungkapnya.
Amarulla menilai belum adanya basis data keterpaparan nasional yang terintegrasi membuat kemampuan memprediksi dampak bencana dan menyusun langkah mitigasi secara efektif masih terbatas.
“Tidak ada satu institusi pun yang dapat membangun dan memelihara model keterpaparan skala nasional sendirian. Karena itu, kita perlu membuka ruang kolaborasi, mengatasi tantangan interoperabilitas data, dan berbagi keahlian untuk menghasilkan model keterpaparan multi-bahaya yang bermanfaat bagi perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana,” ujarnya.
Wamen PU Tekankan Pentingnya Informasi Keterpaparan
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menyampaikan Indonesia memiliki tingkat risiko bencana tinggi karena berada di pertemuan lempeng tektonik utama dunia.
“Memahami keterpaparan dan kerentanan sama pentingnya dengan memahami ancaman itu sendiri,” katanya.
Ia menambahkan kawasan Palung Jawa merupakan salah satu sistem tektonik signifikan yang berpotensi memicu gempa bumi dan tsunami sehingga informasi keterpaparan yang akurat diperlukan untuk mendukung pengambilan keputusan dan prioritas investasi.
“Memahami dimana masyarakat tinggal, infrastruktur berada, dan aktivitas ekonomi terkonsentrasi merupakan fondasi penting untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan,” ucap Diana Kusumastuti.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti





