HOME  ⁄  Nasional

Donor Darah Disebut Wujud Transformasi Gotong Royong Modern di Tengah Kebutuhan Nasional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Donor Darah Disebut Wujud Transformasi Gotong Royong Modern di Tengah Kebutuhan Nasional
Foto: (Sumber :Pendukung Persija Jakarta saat melakukan donor darah jelang pertandingan Persija melawan Persis Solo di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (27/04/2026). (ANTARA/HO-Persija).)

Pantau - Donor darah dinilai menjadi bentuk transformasi gotong royong modern karena mempertemukan kepedulian masyarakat dalam membantu sesama melalui rantai kemanusiaan yang menopang kebutuhan darah di berbagai fasilitas kesehatan.

Donor Darah Menjadi Rantai Kemanusiaan

Donor darah tidak hanya mempertemukan pendonor dan penerima secara langsung, tetapi juga melalui proses pemeriksaan, penyaringan, serta distribusi komponen darah sesuai kebutuhan pasien.

Momentum Hari Donor Darah Sedunia yang diperingati setiap 14 Juni kembali mengingatkan pentingnya solidaritas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan darah bagi korban kecelakaan, pasien kanker, penderita talasemia, pasien gagal ginjal, hingga ibu yang mengalami komplikasi persalinan.

Kisah permintaan darah bagi seorang staf yang akan menjalani operasi turut menggambarkan bagaimana rekan kerja dan berbagai pihak dapat bergotong royong membantu tanpa mengenal penerima manfaat secara pribadi.

Kebutuhan Darah Nasional Masih Menjadi Tantangan

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan kebutuhan darah ideal mencapai sekitar dua persen dari jumlah penduduk sehingga Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa memerlukan sekitar 5,6 juta kantong darah setiap tahun.

Meski Palang Merah Indonesia dan berbagai unit transfusi darah telah memenuhi sebagian besar kebutuhan tersebut, tantangan masih muncul akibat keterbatasan jumlah pendonor, distribusi, akses transportasi, dan fasilitas penyimpanan terutama di wilayah nonperkotaan.

Data Unit Donor Darah PMI Provinsi DKI Jakarta tahun 2025 menunjukkan terdapat 367.067 pendonor sepanjang tahun atau rata-rata sekitar 30.589 pendonor setiap bulan, namun jumlah itu turun menjadi sekitar 20.712 orang selama Ramadhan.

Kebutuhan darah harian di Jakarta yang mencapai sekitar 1.200 kantong relatif dapat dipenuhi berkat tingginya partisipasi masyarakat dan dukungan fasilitas kesehatan, sementara sejumlah daerah masih menghadapi keterbatasan stok dan distribusi.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Tria Dianti